Little Voice Inside (Part 1 of 4)

“Haaaaah…”

Hela nafasku terdengar sangat menyedihkan di telingaku sendiri. Untung saja sebelumnya aku telah memakan sebutir permen penyegar mulut, hingga kemungkinan orang di sebelahku akan keracunan menjadi tidak ada. Ini tak berarti mulutku bau, hanya saja jika kau sedang merasa gugup semua hal akan terasa tidak benar. Semua terasa salah.

“Haaaaah…”

Aku menghela nafas panjang sekali lagi dan kali ini penumpang di sebelahku menatapku selama sesaat sebelum mengeluarkan sebuah masker yang kelihatannya sedang menjadi tren saat ini. Aku yang tersinggung dengan perlakuannya kemudian bangkit dari kursiku dan pergi.

“Jalang,” umpatku pelan ketika melewatinya, cukup pelan hingga ia bisa mendengarku dengan jelas.

Setelah berjalan tak begitu jauh dari wanita menyebalkan itu, aku menemukan tempat duduk yang lumayan, disamping lelaki yang mengenakan sweater hijau diatas kemeja merah marunnya. Celana hitam panjangnya terlihat necis. Kakinya disilangkan, membuat mataku terpaksa melihat sepatu kulit hitamnya yang mengkilat. Disampingnya, menyita satu kursi kosong yang ingin kududuki, bertengger sebuah tas tangan bermerk terkenal yang disandarkan pada punggung kursi.

Aku berhenti sekitar satu meter darinya, berharap ia akan memindahkan tas tangannya ke tempat lain tanpa perlu kupinta namun lelaki itu terlalu sibuk berbicara dengan seseorang melalui ponsel dalam genggamannya. Akhirnya, karena mood-ku yang sedari pagi sudah hancur, kulempar saja tas tangan tersebut ke lantai di dekat kakinya.

“Hei!!”

Ia berseru kaget bercampur kesal, kulihat matanya terbelalak melihat ulahku.

“Sorry,” ucapku malas-malasan seraya menyibukkan diri dengan ponsel yang baru saja kukeluarkan dari saku celanaku.

“Ada apa?”

“Tidak. Bukan apa-apa,” jawabnya pelan pada ponselnya, “Jadi bagaimana tadi?”

Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka dengan suara keras, membuatku terganggu. Mood-ku yang sudah hancur makin bertambah hancur kalau terus seperti ini. Akhirnya untuk melampiaskan semua kekesalanku, aku menyetel musik dari ponselku dengan volume maksimal.

Bisa kurasakan dia mulai terganggu. Lelaki itu tidak bisa fokus ke pembicaraan mereka, terlihat dari seringnya dia berucap ‘Hah?’ dan ‘Apa?’. Aku sedikit terhibur karenanya walaupun mood-ku hancur sehancur-hancurnya.

Tak lama kemudian keretaku datang, tepat ketika aku mendengar seorang wanita berkaok melalui ponsel lelaki itu.

“Disana sedang ada apa sih?”

“Oh, enggak, hanya seekor babon rabies yang lagi kumat,” sindirnya tajam kepadaku.

Jangan mulai, batinku. Seketika itu juga aku bangkit, lalu dengan sengaja menendang tas tangannya yang tadi kulempar.

Sorry,” ucapku padanya, ”Babonnya belum disuntik rabies.”

Kemudian aku melenggang santai ke arah keretaku dan memasukinya. Aku berbalik sebelum pintu tertutup dan mengacungkan jari tengahku tepat di hadapannya.

***

Bau antiseptik memenuhi udara, membakar paru-paruku. Pendingin ruangan meniupkan angin dingin yang terasa aneh. Suara dengung mesin-mesin yang tengah bekerja serasa memukul-mukul gendang telingaku. Bisik-bisik gusar serta isak tangis membuatku resah. Aku selalu benci berada di rumah sakit.

Aku terpaksa menginjakkan kakiku ke rumah sakit ini. Rumah sakit yang berada tepat di pusat Ibukota ini lumayan terkenal, mungkin karena fasilitasnya yang bagus dan harganya yang selangit. Namun sebagus atau seterkenal apapun sebuah rumah sakit tetap saja rumah sakit.

Ini semua adalah hasil kompromi yang aku dan Ayah buat. Bukan mauku untuk melamar pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit ini. Bukan juga kehendakku untuk dilahirkan dari pasangan dokter yang sangat terkenal seantero Ibukota. Dan bukan pula kehendakku jika mereka sangat mengharapkan sang anak juga akan mengikuti jejak kedua orang tuanya.

Aku ingin kehidupan dimana akulah yang benar-benar menjalaninya, bukan disetiri oleh kedua orangtua.

Kadang hidup bisa sangat tidak adil.

Ketika aku sibuk meratapi hidupku yang kini terasa tidak seasyik dulu, pintu di belakangku terbuka. Kemudian masuklah seorang dokter berwajah bundar, berhidung bulat dan berperut buncit. Sekilas dia akan mengingatkanmu dengan Sinterklas di buku-buku cerita anak-anak karena rambut berubannya.

Sinterklas ini—dokter, maksudku—tersenyum dan terlihat begitu senang, seperti dia tidak sedang mengurusi berpuluh-puluh pasien yang sedang meregang nyawa. Senyumnya terlihat bodoh, tak mampu mengundang bibirku untuk ikut tersenyum.

“Frans!!” ucapnya dengan suara yang menggelegar, membuat gelas berisi air minum di mejanya sedikit bergetar.

Aku berdiri dan menyalaminya, menolak untuk berpelukan dengan sinterklas jadi-jadian satu ini. Aku mengulurkan tangan, mengacuhkan tangannya yang terentang di kedua sisi tubuhnya seakan menginginkan sebuah pelukan.

Aku mengguncangkan tangannya pelan ketika ia menyambut uluran tanganku. Tangannya terasa lembek.

“Siang, Om. Ah, ngg… siang, Dok,” ucapku bingung.

“Hahaha…” tawanya menggelegar, lagi-lagi menggetarkan ruangan, perut buncitnya ikut naik-turun seirama dengan tawanya, “Panggil saja saya dengan panggilan yang nak Frans mau. Jadi, bagaimana? Papamu sehat? Mamamu bagaimana?”

“Ayah sehat, Dok. Mama juga. Terima kasih sudah bertanya. Mereka nitip salam buat Dokter.”

“Hehe, jangan sungkan-sungkan. Jangan sungkan-sungkan,” kekehnya geli.

Setelah basa-basi tersebut, Dokter Yanto—ya, itu nama beliau—mempersilahkanku untuk duduk, sedangkan dia berjalan memutari meja untuk sampai ke tempat duduknya. Aku terheran-heran ketika ia mengeluarkan sapu tangan dan mengelap mukanya, bagaimana mungkin jarak sedekat itu membuat Sinterklas ini berkeringat dan terengah-engah seperti habis marathon sepuluh kilometer?

“Boleh saya lihat surat lamaran yang nak Frans bawa?” pintanya setelah mampu mengatur nafasnya hingga normal kembali.

Tanpa mengucapkan apa-apa, kuambil map berisi surat lamaran yang semalam kutulis dengan ogah-ogahan dari dalam ransel biruku. Map cokelatnya terlihat sedikit kusut, mungkin karena sedikit berdesak-desakkan di kereta tadi.

Ahh, tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan lelaki bodoh yang menyebalkan di stasiun tadi.

Dengan senyum kecil yang ditimbulkan oleh ingatan tadi pagi, aku menyerahkan surat lamaranku ke Dokter Yanto. Dia mengeluarkan surat lamaran dan mulai membacanya. Semakin lama kerutan di antara kedua matanya semakin dalam ketika membaca surat lamaranku.

“Ngg… Nak Frans, ini…” ucapnya ragu-ragu. Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Oh iya! Dok, maaf, tunggu sebentar,” pintaku sambil merogoh-rogoh isi tasku. Ketika menemukan apa yang kucari, yaitu amplop kecil berisikan surat dari Ayah untuk Dokter Yanto, aku menyerahkannya kepadanya. “Ini.”

Sinterklas gadungan itu menatapku heran sebelum mengambil surat tersebut dan mulai membacanya. Makin lama mulutnya semakin membulat ketika membaca surat tersebut. Dan ketika sampai pada bagian akhir, ia menghembuskan napas keras-keras.

Sepertinya Dokter Yanto membutuhkan satu atau dua permen penyegar mulut, dalam satuan lusin.

“Begini, Nak,” katanya seraya mengelap wajahnya yang kini sudah berkeringat lagi. Kurasa kelenjar keringat Dokter Yanto telah rusak parah dan perlu dioperasi, terserah deh dioperasi apanya. “Jujur, saya sangat senang ketika tahu bahwa anak dari pasangan dokter yang sangat terkenal di seantero ibukota ingin bekerja di rumah sakit yang sama dengan tempatku bekerja.”

Dan pasti selalu ada ‘tapi’…

“Tapi ketika melihat surat lamaran yang kamu buat, saya jadi ragu-ragu,” ia mengatakannya seraya menatapku tajam. Kini ia benar-benar terlihat seperti seorang Dokter dengan aura kewibawaannya yang tiba-tiba muncul. “Yang kita lakukan saat ini menyangkut nyawa manusia, bukan mesin atau bahkan mainan. Semuanya butuh tanggung jawab dan dedikasi yang besar, Nak, terutama tanggung jawab moral.

“Jika saya menerima kamu yang sama sekali nol dengan ilmu kedokteran, maka sama saja seperti saya mengantar pasien yang ingin sembuh ke lubang kubur mereka.”

Aku mengerti. Aku sangat mengerti dengan maksud Dokter Yanto. Aku pun tahu sejak berhari-hari lalu akan seperti ini jadinya. Karena rumah sakit mana yang begitu bodohnya menerima seorang bocah ingusan yang hanya lulusan SMA untuk menjadi perawat?

Kadang Ayahku yang begitu pintar bisa menjadi sangat tolol.

“Iya, Dok, saya mengerti,” ucapku pelan.

“Maaf, Nak Frans. Kami belum bisa menerima kamu untuk bekerja disini,” ucapnya pelan, terdengar sangat bersungguh-sungguh ketika meminta maaf. Hei, aku mulai menyukai dokter ini. Aku hanya tersenyum sebagai respon untuk permintaan maaf yang juga merupakan keputusan final darinya.

“Oh, iya, kenapa Nak Frans tidak kuliah dulu saja? Nak Frans bisa memperdalam ilmu kedokteran dan mungkin setelah mendapatkan pengalaman serta pendidikan yang mumpuni, Nak Frans bisa kami terima disini, bagaimana?” tanyanya bersemangat dan bisa kulihat binar-binar di matanya.

Aku baru ingin menjawab kalau aku sama sekali tidak berminat di bidang kedokteran—aku juga ingin menyatakan kalau otakku yang kecil dan sudah banyak kehilangan neuron karena Miyabi Collection yang biasa kupinjam dari teman-temanku takkan sanggup menerima begitu banyak ilmu lagi—ketika seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.

“Pak, maaf mengganggu, ada kerabat pasien yang ingin bertemu dengan Bapak. Mereka menunggu di bawah,” ucap suara itu terburu-buru.

“Oh, oke, saya segera kesana,” jawab Dokter Yanto sebelum berbicara kepadaku, “Nak, kamu disini dulu. Saya ada perlu sebentar. Kamu jangan kemana-mana, ya?”

Apa? Aku tak sudi disuruh menunggu lagi. “Ngg, Dok, kalau boleh saya lebih baik pulang saja. Lagipula saya sudah tak mempunyai keperluan apa-apa lagi, biar nanti saya yang bilang ke Ayah kalau saya tidak bisa bekerja di rumah sakit ini.”

“Apa? Jangan! Urusan saya hanya sebentar kok. Biar nanti kamu saya antar pulang,” desak Sinterklas keras kepala ini. Aku yang malas berdebat hanya bisa pasrah mengiyakan kemauannya.

“Dokter sedang tidak sibuk kan? Bisa temani Nak Frans sebentar?” tanyanya pada Dokter di belakangku.

“Tidak, Dok. Dengan senang hati,” jawabnya.

“Baguslah kalau begitu. Nah, Nak Frans, perkenalkan, ini Dokter Adam, biar dia menemanimu sebentar selama saya pergi. Mungkin kamu bisa tanya-tanya tentang universitas kedokteran mana yang bagus. Ah, iya, kalau kamu perlu sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk meminta ke Dokter Adam. Benar kan, Dok?” jelas Dokter Yanto panjang lebar.

Kemudian aku berdiri dan membalikkan tubuhku agar bisa bersalaman dengan Dokter Adam.

“Salam kenal, Babon,” ucapnya pelan seraya meremas jemariku kencang.

MAMPUS GUE!!!

***

Aku memijat-mijat jemariku pelan, kurasa ada satu atau dua tulang yang patah karena remasannya tadi. Kini orang yang baru saja menganiayaku sedang duduk di hadapanku dengan santainya. Kakinya ditumpangkan diatas meja, berlagak seperti bos.

Bedebah!!! Aku mengumpat dalam hati.

“Sakit ya?” ucapnya tak acuh seraya terus membaca surat lamaranku yang dibiarkan tergeletak di atas meja oleh Dokter Yanto.

“Apanya?” ucapku pura-pura tak tahu apa yang bajingan ini bicarakan.

Dokter Adam hanya menatapku selama sesaat lalu kembali membaca seraya bergumam pelan. Aku hampir bisa mendengar kata “tolol” yang dia gumamkan. Bajingan ini hanya butuh waktu beberapa saat untuk membaca surat lamaranku. Ia kemudian melanjutkan membaca surat yang dibuat Ayah khusus untuk Dokter Yanto.

“Bukankah ini bisa disebut tidak sopan, Dok?” ejekku kepadanya.

Lagi, ia hanya menatapku lalu kembali membaca. Kali ini dengan suara yang lebih keras, ia bergumam “tolol”. Naik darah aku dibuatnya. Aku sudah berjanji untuk mengontrol emosiku dan tidak akan membuat keributan lagi. Oleh karena itu aku memejamkan mataku dan mencoba untuk menenangkan diri dengan latihan pernafasan.

Tarik napas… Buang… Tarik napas… Buang…

Ketika kudengar suara gesekan antara kertas dengan meja, aku membuka kedua mataku dan kulihat Dokter Adam sedang tersenyum lebar, senyum puas sekaligus menakutkan. Firasatku mengatakan kalau ini akan menjadi buruk. Sangat buruk.

“Jadi,” ia memulai, “Dokter Yanto setuju sama keinginan lo buat bekerja sebagai perawat disini?”

Aku melempar pandang curiga ke arahnya sebelum menjawab tidak.

“Ahh, jadi begitu,” ia mengangguk-angguk seraya tersenyum makin lebar, membuatku makin khawatir.

“Gue baru tahu kalau lo ternyata anak dari Dokter Ronny Simbolon,” lanjutnya, “Aneh sekali Dokter sehebat Dokter Ronny bisa mempunyai anak sebego elo yang bahkan tidak bisa membedakan stetoskop dengan teleskop.”

Sialan! Umpatku dalam hati.

“Terus, benar nggak kalau lo tidak mendapatkan pekerjaan selama setahun yang berhubungan dengan praktek kedokteran, maka nama lo akan dicoret dari daftar ahli waris?” ucapnya menahan tawa.

Aku hanya mengangguk, terlalu bingung menebak-nebak arah pembicaraan kami.

“BUAHAHAHAHA!!!”

Bajingan itu tak sanggup lagi menahan tawanya. Tawanya terdengar sangat keras dan membahana, bahkan sanggup terdengar hingga ke seantero gedung. Ia tertawa hingga terbungkuk-bungkuk dan mengeluarkan air mata. Aku berharap tiba-tiba langit diatas kepalanya runtuh dan menimpanya hingga mati. Atau yang hal yang lebih sederhana seperti serangan jantung atau impoten.

“Ba-bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” tawarnya sambil sesekali menyemburkan tawa, masih merasa lucu oleh hal yang membuatku kesal.

Aku tak menjawab, hanya memandanginya dengan mata yang dipicingkan, curiga dengan motifnya.

“Ayolah, gue tau lo membutuhkan pekerjaan dan gue bisa bantu lo. Nggak akan ada pihak yang dirugikan,” ucapnya seraya berdiri dan berjalan ke tengah ruangan, “Bagaimana?”

Aku baru saja akan menanyakan lebih spesifik tentang apa tepatnya maksud “tawarannya “ ketika pintu terbuka dan Doktor Yanto masuk dengan keringat yang mengucur dan wajah yang sumringah.

“Ah! Dokter Adam! Maaf membuatmu menunggu,” ucap Sinterklas yang kini kembali basah oleh keringat.

“Tidak kok, Dok. Saya dan Nak Frans hanya berdiskusi tentang masalah yang Nak Frans hadapi saat ini, mengingat dia tidak bisa bekerja disini,” ucapnya seraya tersenyum mengejek ke arahku, ia dengan sengaja memberi penekanan pada kata ‘Nak Frans’ seperti ingin membuatku semakin kesal, “Apakah semua baik-baik saja, Dok? Dengan keluarga pasien barusan?”

“Ahh, tidak, tidak. Mereka hanya datang untuk berterima kasih karena operasi yang kita lakukan kepada anaknya tempo hari berjalan dengan lancar. Mereka juga memberi saya tiket berlibur ke Bali selama seminggu dalam waktu dekat. Hehehe…” jelas Dokter Yanto makin sumringah, penjelasannya membuatku semakin menghormati lelaki buncit yang berdiri di hadapanku ini, “Ah, iya, saya merasa menyesal tidak bisa menerima Nak Frans di rumah sakit ini.”

“Oleh karena itu, Dok, saya bermaksud menawarkan pekerjaan kepada  Nak Frans di klinik saya.”

DUARRR!!!

Rasanya seperti ada yang menjatuhkan bom di tengah-tengah kami. Aku menatap Dokter Adam kebingungan, begitupun juga Dokter Yanto.

“Klinik? Klinik milik dokter itu? Apakah tidak apa-apa Dok? Nak Frans sama sekali tidak ada dasar di kedokteran, lho,” sanggah Dokter Yanto cepat.

“Oh, tenang saja, Dok. Saya tidak akan membiarkan Nak Frans menangani pasien. Tugasnya hanya akan umengurusi administrasi klinik yang sekarang sedang berantakan karena tidak adanya administrator. Saya pikir ini mungkin jalan terbaik yang kita punya,” ucap bedebah satu ini dengan muka sangat puas.

Begitulah jadinya, tak lama setelah itu Dokter Yanto menghubungi Ayah  langsung dari ponselnya dan memberitahukan “berita gembira” ini kepadanya. Awalnya Ayah tak setuju dan merasa sangsi terhadap pekerjaanku nanti, namun akhirnya setelah dibujuk dengan sedemikian rupa oleh Sinterklas ini, Ayah akhirnya setuju.

“Kuharap anakku nanti bisa menjadi seorang dokter yang hebat,” samar-samar terdengar suara Ayah dari handphone milik Dokter Yanto, “Dia harapan saya satu-satunya.”

Dalam hati aku tertawa sekeras-kerasnya.

Sampai kapan Ayahku berhenti berharap pada suatu yang tidak akan mungkin?

***

“Cheer up, dude,” kurasakan ubun-ubunku dipukul dengan sebuah botol plastik yang masih terisi setengah penuh.

“Aduh!” teriakku kaget bercampur sakit. Aku membalasnya dengan memukulkan sendok besi yang sedari tadi kupegang ke tengkoraknya hingga ia mengaduh kesakitan.

“Rasain! Bego!”

“Sabar, Frans,” ucap Tian menasihati seraya terkikik keras, lalu kurasakan rambutku diacak-acak dengan lembut olehnya.

“Iya bener tuh, udah muka lo boros, marah-marah melulu, cepet mati lo nanti,” gerutu Leon pelan seraya mengusap-usap kepalanya.

Aku tak menjawab gerutuan manusia kera satu itu, aku hanya memberikannya tatapan yang kupikir cukup untuk membuatnya gentar karena setelah itu ia memalingkan kepalanya yang hampir kosong itu ke arah lain.

“Udah, udah. Nih, dimakan,” ucap Riza menengahi sembari meletakkan mangkuk besar berisi nasi goreng spesial buatannya, lengkap dengan sosis, kornet, dan irisan-irisan telur dadar yang terlihat sangat enak. Kemudian datang pula Revan yang meletakkan semangkuk selada, irisan-irisan tomat dan sayuran-sayuran lainnya yang tidak akan kumakan.

“Thanks, Za,” ucapku padanya penuh terima kasih. Riza merespon terima kasihku dengan memberikanku senyumannnya yang menenangkan. Sosoknya adalah yang paling sempurna diantara kami, tampan, pandai, kaya, intinya sempurna. Namun ia memiliki hati yang paling tulus yang pernah aku lihat selama ini. Aku menyukainya.

Kini kami berada di rumah Riza yang mewah, kumpul-kumpul seperti zaman sekolah dulu. Sebenarnya kumpul-kumpul seperti ini baru bisa diadakan lagi sekarang. Selama ini kami semua terlalu sibuk dengan aktivitas yang harus kami jalani masing-masing.

Makan-makan seperti ini biasa kami lakukan jika ada salah seorang diantara kami yang bete atau sedang dilanda masalah. Dan untuk kali ini akulah yang meminta–memelas-melas, sebenarnya—agar mereka semua bisa menemaniku disaat terpurukku ini.

Dan ajaibnya, kini mereka semua menyempatkan waktu mereka yang berharga untukku, seorang sahabat yang kerjanya hanya bisa menyusahkan mereka di masa lalu. Betapa bersyukurnya aku dikelilingi sahabat-sahabat seperti mereka.

Dan menuruti tradisi yang sudah-sudah, aku sebagai orang yang memprakarsai semua ini, menyendokkan nasi goreng pertama untukku sendiri. Dan kini dihadapanku terhidang sepiring nasi goreng spesial yang masih mengepul, mengeluarkan aroma yang menitikkan air liur.

“Jadi bagaimana sekarang?” tembak Revan tiba-tiba. Dia ini memang orang yang sangat to-the-point, hingga terkadang aku benci sifatnya yang seperti itu. Dia tidak pernah bisa mengerti situasi. Kudengar pada suatu jamuan makan malam yang ayahnya adakan, ia—secara tidak sengaja, katanya—menjelaskan panjang lebar tentang struktur dan komponen-komponen kotoran manusia serta faktor-faktor yang  membuat warnanya menjadi kuning. Tolol.

Becanda.

Perkataannya membuat sendokku terhenti ditengah udara. Kuberikan padanya tatapan mematikanku yang beberapa saat lalu kuarahkan kepada Leon. Sebagai balasannya, ia hanya memberikan tatapan menantang kepadaku. Aku tahu niatnya baik. Aku tahu dia mengkhawatirkan keadaanku sekarang dan menuntut sebuah tindakan yang eksplisit dariku. Namun semua pemikiran positif itu tidak menghalangiku untuk mengacungkan jari tengahku tepat ke arahnya.

Lalu aku kembali memakan makananku dan mengacuhkan Revan si kera. Mood-ku sedikit terusik karena pertanyaan itu membuatku teringat dengan ucapan Ayah sore tadi.

***

“Saya ingin kamu bersungguh-sungguh nantinya ketika bekerja di klinik Dokter Adam. Saya harap otak kamu yang bebal itu bisa dapat pencerahan agar kamu mau mempelajari ilmu kedokteran.”

Kata-kata Ayah terdengar begitu tajam dari ujung sana, membuat ciut nyaliku.

“Tapi, Yah, Frans nggak bisa. Frans nggak mau!” aku berharap suaraku dapat terdengar tegas di telinga Ayah, namun yang terdengar ditelingaku sendiri adalah suara yang memelas dan penuh rasa putus asa.

“Nggak bisa!” bentak Ayah, “Kamu harus ikuti apa kata saya. Ini semua salah kamu yang tidak mampu lolos dalam ujian masuk universitas negeri yang saya pilih. Saya nggak akan pernah mau menguliahkan kamu selain di jurusan kedokteran, ngerti? Mau jadi apa kamu kalau mengambil jurusan keuangan?!”

Pertanyaan retoris itu semakin membuat nyaliku ciut.

“Yah, Frans mohon sama Ayah, kalau perlu Frans bakal berlutut di kaki Ayah. Frans nggak tertarik untuk berkarir di bidang kedokteran seperti Ayah. Biar Frans yang menentukan masa depan Frans sendiri. Hidup Frans sendiri. Frans mohon, Yah,” ucapku memelas. Tak terasa mataku memanas dan pandanganku mulai terasa kabur. Aku hampir menangis.

“Tidak bisa! Kalau kamu tidak mau mendengarkan saya, silahkan ambil barang-barang kamu dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi di rumah saya. Kamu jangan cengeng! Kamu itu laki-laki bukan perempuan!”

Klik

Lucu ya? Mereka bilang hidupku ada ditanganku sendiri. Nyatanya tidak.

***

Advertisements

2 thoughts on “Little Voice Inside (Part 1 of 4)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s