Aah, Februari…

Kau biarkan aku mengetuk pintu hatimu, namun diujung hari hanya kau anggap gaduh. Sayang, dungukulah yang salah menangkap isyarat darimu.

Ahh, Februari… Entah kenapa dikau senang sekali menggurat perih di dada, apakah kita pernah ada masalah di masa lalu? Maafkan aku, Februari.

Aku hanya bisa menjerit dalam tulisan, menangis dalam kata, meratap dalam huruf. Semesta semakin hari semakin kejam, semakin hari semakin kelam, semakin hari semakin dalam mengukir luka. Ahh, betapa aku berharap bisa merenggut lepas jantung hatiku, agar mereka tak lagi dihantui pedih.

Sayang, apakah kau pernah menganggapku?
Aku tak mengerti. Tak pernah mengerti. Apakah ini sayang? Atau hanya mabuk kepayang? Ahh, entahlah, namun apa artinya merindu namun tak pantas merindukan, ingin mendekap namun berujung harap, ingin memberi namun mendapat perih?

Sayang, apakah tak ada secuil pun sayang untuk kuperjuangkan?
Horor dalam mimpi telah terjadi. Kau, Sayang, entah sedang memainkan permainan seperti apa, seperti bagaimana untukku. Hanya kau yang tahu aturannya, hanya kau yang tahu tenggat waktunya, hanya kau yang tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya. Namun satu yang aku tahu, aku akan berakhir dipencundangi, ditelanjangi, dibanting ke bumi.

Sayang, apakah yang selama ini aku tunjukkan belum cukup memuaskan egomu?
Ucapkanlah, Sayang, satu kata yang kunantikan. Sebab aku tak mampu membaca matamu, mendengar bisikmu. Dan nyanyikanlah, Sayang, senandung kata hatimu. Sebab aku tak sanggup mengartikan getar ini. Sebab kau meragu pada diriku.

Sayang, mengapa begini sulit?
Ahh, Sayang, kau membuatnya begitu sukar. Kau memintaku untuk tak menyerah, namun kau sendiri menjerit, memohon padaku untuk melepaskan tanganmu yang kugenggam erat. Aku bingung, Sayang. Kenapa kau tak membuatnya semudah menarik napas? Bukankah cinta terindah adalah dimana kau dan aku tidak tahu apa-apa, namun kau dan aku berjanji akan bertahan melalui semuanya?

Sayang, sampai kapan kau berlaku lalim seperti ini? Ahh, Sayang, aku tlah jahat. Aku
menggoreskan penaku merangkai kata demi kata untuk menggambarkan kau sebagai pihak yang jahat. Aku lupa, Sayang, aku lah yang tlah lancang memanggilmu “Sayang” disaat hubungan ini begitu abu-abu. Aku lah yang berbisik “Cinta” disetiap dinginnya subuh. Aku lah yang berteriak “Kasih” sebelum kau dibuai mimpi. Aku lah yang jahat, Sayang.

Sayang, apa yang kini harus kulakukan?
Aku yang “buta” atau kau yang “batu”? Aku tlah berupaya setengah mati menerjemahkan isyaratmu. Kau berkata “cemburu” saat itu, ngambek selama dua hari membuat tidurku tak nyenyak, makanku tak enak. Aku bahagia di tengah kalut. Bukankah kau “cemburu” karena “sayang”?

Lalu kenapa kau berlaku murah dimaya?
Mengumbar cinta seakan tlah buta, tak pernah menyadari dihadapanmu ada lelaki yang akan memberimu sepiring cinta dan segelas sayang setiap harinya.

Aku kini takut akan kata “menyerah”. Tetapi bagaimana ku harus menemukan bahagia jika bersamamu hanya mendulang luka?

Aku tahu kau takkan pernah membaca tulisan ini, maka aku nyatakan saja… Aku tak pernah menyangka akan jatuh sedalam ini pada manusia jalang sepertimu.

Ahh, Februari… kapankah kau akan bosan menitip luka di dada?
*
11:41
Untuk kamu, Cinta Jalang-ku
Dariku, Pria yang sama Jalangnya

Advertisements

4 thoughts on “Aah, Februari…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s