Tak Bisa Se-Galau Dwita

Betapa nyeri ketika ‘kenyataan’ menampar, I shoulda get a life, bukan menyerah hanya tak tahu harus berbuat apa
17 tahun aku tlah hidup, Sayang. Berkali berpikir cinta, namun dijatuhkan nestapa. Bukankah konspirasi semesta yang makin lama makin brengsek ini semakin membuat gerah, hingga meneteskan peluh diatas luka. Kini aku hidup dengan banyak bekas luka, sebagian telah kulupakan rasa perihnya, namun sebagian lainnya, yang lebih besar dan tak terperikan sakitnya, membuatku terbangun di malam buta.
Betapa lucu pertemuan kita. Kau ingat? Tentu saja kau ingat, Sayang. Kejadian itu baru terjadi kurang dari seminggu yang lalu.
Aku bosan dengan kesendirian, merindu rembulanku seorang. Aku bersumpah takkan akan menggunakan nama mayaku itu lagi, namun seperti sumpahku yang lainnya, aku melanggarnya. Kala itu aku telusuri setiap inci mayaku, berharap sang penyembuh luka datang, namun dia tak pernah hadir. Aku sadar, aku tak bisa menunggu terus seperti ini, aku lelaki, bukankah sudah kodratku untuk berdarah-darah demi seseorang yang kucinta?
Aku menemukanmu, Sayang. Nama mayamu yang simple membuatku tergugah untuk mengenalmu lebih dalam. Namun ada sesuatu yang menggangguku. Kamu nakal, Sayang. Sungguh nakal berkata seperti itu. Aku mencari seseorang yang baik untukku, dan kata-kata itu tak kuharapkan keluar dari mulut orang yang kelak akan menjadi pendampingku. Namun aku pura-pura buta, hatiku telah menjadi keras seiring perih yang kurasa.
Berbekal angka 745d43c8 yang kudapat setelah perjuangan dua hari, aku mengundangmu dan betapa herannya aku ketika kau langsung menerima undanganku. Aku menganggap diriku sendiri seorang penulis, jadi jangan heran jika imajinasiku terkesan liar. Betapa aku berharap kalau kitra berdua jodoh, Sayang. Pun aku memohon agar kali ini semesta tak sebejat dahulu.
Huruf demi huruf. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Semua itu mengalir layaknya sungai di peraduan. Dimanakah peraduan itu? Entahlah, Sayang, apalah daku dibanding Dwita yang mungkin mampu memikirkan diksi yang lebih menyayat lagi.
Aku tak mengerti. Aku tak mungkin mengerti. Betapa berjuta kali cinta telah menipuku, awalnya mengajakku terbang mengangkasa, membawaku hanyut dalam kemanisan langit ketujuh. Kemudian cinta pula yang menjatuhkanku begitu keras, mencium aspal panas ibukota nan kotor.
Aku tak mengerti. Aku tak mungkin mengerti. Apa bedanya ingin memiliki dan obsesi? Apa bedanya sayang dan mabuk kepayang? Apa bedanya rindu dan kesepian? Apa bedanya cinta dan kegilaan sesaat?
Sungguh, Sayang, apalah daku dibanding Dwita yang mampu menjawab semua itu.
Dua hari, itu yang kubutuhkan untuk jatuh padamu. Kau tak percaya? Kau harus percaya, Sayang. Aku tak pernah berdusta jika itu menyangkut cinta.
Betapa aku dungu berharap pada dua hari itu yang hanya akan menumbuhkan cinta yang rapuh. Bahkan kecambah pun butuh waktu lebih dari dua hari untuk tumbuh. Namun apalah daku menentang rasa ini, rasa ingin memiliki namun tak dapat memiliki. Bagai menggenggam air.
Tapi aku percaya, Sayang, kalau cinta-dua-hari ini akan semakin kuat nantinya. Kau akan melihat daunnya yang rimbun menaungimu dari jahatnya terik sang surya. Buahnya yang ranum akan memuaskan dahagamu. Dan bunganya yang indah takkan layu dan akan terus bermekaran disepanjang sisa hidupmu.
Tapi kini aku merasa dia tak akan kuat melawan badai dengan akarnya yang kecil. Aku takut batangnya akan diporak-porandakan semesta. Aku takut, Sayang. Sungguh takut.
Tapi demi Tuhan aku tak akan menyerah. Karena… bukankah itu maumu? Perjuanganku? Luka-lukaku? Peluhku? Tangisku?
Demi Tuhan, aku tak akan menyerah.
*
09:40
teruntuk kamu cinta-dua-hari ku
dari daku, yang tak bisa se-galau Dwita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s