Spionase

KRIIIIIINNNGGGG!!!

Bel tanda masuk sudah lantang berbunyi, tetapi aku masih saja terduduk disini, di WC tua yang sudah tak terurus ini. Tulang rusukku nyeri, entah patah atau apa, membuatku tak bisa bergerak barang sedikit pun. Sebelah mataku lebam. Bibirku sobek. Dan kurasa kakiku terkilir, karena salah satu dari mereka menginjaknya keras-keras. Tak kuasa kutahan air mata ini karena sakitnya.

“SHIT!” teriakku keras.

Bukannya melegakan perasaanku, teriakanku itu seakan merenggut sisa nafasku, membuatku megap-megap kehabisan udara. Aku memejamkan mata untuk menahan sakitnya. Sedetik setelah itu, bunyi wanita yang terkesiap terdengar olehku. Kubuka kelopak mataku sedikit dan yang kulihat hanya sekelebatan rambut yang dikuncir buntut kuda.

Pasti dia pikir kalau aku sudah mati, batinku, aku harus pergi, sebelum para guru mendapatiku dalam keadaan babak belur seperti ini.

Baru saja kugerakkan tanganku sedikit untuk menopang tubuhku, rasa sakitnya langsung menghantam, membuatku goyah dan jatuh telentang.

Huh. Biar saja. Rutukku setengah pingsan.

Beberapa menit aku berbaring diam, dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sejuk mengusap lembut bibirku yang sobek, berusaha menghilangkan noda darah yang mengering. Nyaman rasanya, membuatku tetap terpejam dan dalam diam menikmati sensasinya. Setelah membersihkan luka di bibirku, ia menekan-nekan benda sejuk itu di bagian sekitar mataku yang lebam, membuatku meringis dan membuka mataku.

Untuk kedua kalinya dalam sehari, sisa nafasku seakan direnggut.

“So-sorry… Aku… Aku tak bermaksud buat bikin kamu tambah sakit, tap-tapi aku… tapi…” suaranya mengecil kemudian menghilang. Ia ketakutan.

Aku mulai merasa pusing.

Bernafaslah! Batinku

*

Itu dia! Terpisah dari gerombolan lebah-lebah lainnya, duduk dilantai dan hanya menatap kosong bunga-bungaan di sekelilingnya. Itu dia! Raut wajahnya yang melamun, mebiaskan indah cahaya Matahari disekitarnya. Itu dia! Caranya menyelipkan helai-helai rambutnya kebelakang telinganya. Itu dia! Itu Dia! Itu dia…

Pasti aku melamun selama beberapa menit, menikmati indah dihadapanku, sampai tamparan itu mendarat dipipiku.

Dia lagi, geramku dalam hati.

Tamparannya yang kedua pun mendarat di pipiku dengan sama kerasnya, pertanda bahwa aku harus enyah dari pandangannya.

Tommy Hanan.

*

Perutku nyeri, karena berlarian selama sejam, menghindari Tommy dan antek-anteknya. Ini sepertinya sudah menjadi rutinitas bagiku, ke sekolah pun hanya untuk dilumat Tommy, dijadikannya samsak untuk latihan tinjunya.

Hampir setiap hari aku membuat khawatir orang rumah karena luka-luka yang kubawa pulang. Dan ‘jatuh’ selalu menjadi alasanku, masa  bodoh dengan semua kecurigaan mereka, tak satupun dari mereka yang benar-benar peduli.

Kakiku seperti mempunyai kemauan sendiri, tak terkontrol pikiran, membawaku selalu ke WC usang ini setiap kali usai diburu atau dijadikan bulan-bulanan Tommy dan gengnya. Disini aku merasa aman, karena orang-orang seperti mereka yang lebih sering memuja ototnya daripada menggunakan otaknya tak mungkin berpikir kalau aku bersembunyi disini.

Tapi sekarang tempat ini terasa berbeda. Bau alkohol mengambang diudara, memuakkan.

Lama aku berdiri bimbang, terus berfikir untuk mencari aman, sangat bahaya jika aku ketahuan terlihat berada disini. Namun bunyi gedebuk pelan di salah satu bilik kamar mandi membuatku penasaran, siapa yang berani membawa barang-barang seperti ini ke sekolah?

Setelah lama memantapkan hati, aku mendorong salah satu pintu bilik yang tertutup.

“Shit!” rutukku pelan, “Sial banget gue hari ini.”

Tanpa pikir panjang kukeluarkan dia dari bilik tersebut, menyeretnya dengan hati-hati dan susah payah untuk menghidari kubangan-kubangan muntah yang ia buat. Kusandarkan punggungnya di dinding, lalu kuambil ember yang penuh dengan air tadahan hujan semalam, lalu kusiram dia.

Lumayan, pikirku. Itu membersihkannya dari muntahannya sendiri. Kubuka kemeja sekolahnya, menguceknya sedikit lalu kuperas dan kumasukkan ke dalam tasku. Kupakaikan sweaterku dengan sedikit susah payah. Aku tak  berani mengganti celananya walaupun ada sedikit noda muntah yang hanya kuseka dengan sapu tangan yang selalu kubawa.

Setelah penampilannya sedikit terlihat lebih baik, aku hilangkan barang bukti yaitu botol-botol minuman beralkohol tersebut. Aku membuangnya melewati tembok tinggi sekolah yang mengarah ke tanah kosong dibelakangnya.

Dia gila.

Kupapah dia dan kubawa pulang.

*

Kini aku mempunyai teman, atau bisa kuanggap begitu, karena sebenaranya kita berdua tak pernah mengucapkan lebih dari tiga kalimat dalam satu tarikan nafas. Aneh ya?

Hari ini genap seminggu setelah kejadian dengan botol-botol alkohol itu. Sesampainya dirumahku waktu itu, keadaan rumah sedang kosong, yang membuatku sangat bersyukur, karena aku sudah lelah setengah mati memapah ia sepanjang perjalanan pulang dan kurasa aku tak kuasa lagi jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan menyudutkan yang pasti dilontarkan orang tuaku.

Ia menginap dirumahku hingga akhir pekan, memulihkan kondisinya dari efek berbotol-botol minuman keras yang ia tenggak. Aku tipikal orang yang tidak mau mencampuri urusan orang-orang, jadi aku tidak perlu bersusah-susah menanyakan alasan ia melakukan itu. Dan ia juga merasa tak perlu repot-repot untuk menjelaskannya. Karena aku yakin setiap orang berhak untuk menghadapi permasalahannya sendiri.

Kini penampilannya sungguh berbeda dibanding jumpa pertama ketika aku menemukannya terkapar di bilik WC. Ia mencukur rambut dan janggutnya. Pakaiannya licin dan bersih. Dan jelas ia memakai parfum. Penampilannya yang sekarang lebih beradab dan lebih menyerupai murid sekolah menengah atas membuatku menyadari bahwa dia ternyata adalah teman satu angkatanku yang sesekali pernah kulihat entah dimana di sekolah.

Aku tahu dia bukanlah tipe-tipe orang yang supel dan pandai bergaul, sama kakunya seperti aku. Sejauh ini aku menyadari satu-satunya teman yang ia punya adalah aku. Tapi dia punya keahlian di bidang olahraga dan akademik. Bahkan para guru menjadikannya salah satu staf OSIS walaupun ia menjalaninya dengan ogah-ogahan.

“Kau suka dengannya.” katanya tiba-tiba, dengan pandangan tetap ke arah buku yang ia baca. Saat itu jam istirahat dan kami berdua sedang di kantin.

“Hah?” kata-katanya menyadarkanku yang sedang melamun, memandangi Widya.

“Kau suka dengannya.” ujarnya lebih jelas,

“Hah? Siapa?” tanyaku kaget.

“Kau. Suka. Dia.” ia mengatakannya lambat-lambat, menurunkan bukunya dan memandangku dalam-dalam. Aku hanya diam.

“Kau. Suka. Dia.” lanjutnya sambil mengedikkan kepala ke arah Widya yang melamun sambil memainkan makanan didepannya.

“Bodoh.” hardikku.

“Lima tahun, hanya memandanginya tanpa berani melakukan apa-apa, itu arti bodoh yang sebenarnya. Pengecut.” ujarnya pelan sambil melanjutkan membaca buku yang tebalnya akan membuatku gegar otak jika berani-berani membacanya.

Aku hanya terperangah. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ia katakan kepadaku.

*

Perutku sakit. Mataku lebam. Aku tersengal-sengal menarik nafas.

Dendam ini semakin menumpuk setiap harinya. Tommy dan komplotannya makin semena-mena. Tapi aku bisa apa? Aku cuma cowok kuper, kerempeng, lemah, yang diciptakan hanya untuk menjadi samsak bagi orang-orang seperti Tommy.

“Kau benci mereka.”

Aku tahu dia benar. Radit benar. Aku tak menyangkalnya. Aku hanya menoleh kepada sosoknya yang berdiri bersandar dengan tangan terlipat di dada.

“Kau ingin balas dendam.” katanya pelan

Aku hanya diam.

“Datanglah ke ruang OSIS saat sekolah sudah sepi. Kalau kau ingin menghancurkannya, akan kubantu.”

*

Rencana sudah matang. Butuh dua minggu untuk menyempurnakannya. Sekarang aku hanya tinggal menunggu kehancuran Tommy.

Aku hanya perlu bekerja sesedikit mungkin, berakting sebagai orang yang teraniaya didepan salah satu adik kelasku dulu. Adik kelasku adalah seorang penggosip sekaligus manajer klub futsal disekolahku. Sambil menangis sesenggukan aku menceritakan semua perlakuan Tommy kepadaku dan menunjukkan lebam-lebam yang baru kemarin ia buat.

“Trims ya sudah mau ngedengerin. Aku nggak tahu lagi harus cerita ke siapa. Maaf juga aku nangis didepan kamu, tapi aku jadi sedikit lega. Jangan bilang siapa-siapa ya, aku malu soalnya. Aku percaya kok sama kamu.”

Lalu aku pun pergi. Tak sampai sepuluh detik, ketika aku berbalik adik kelasku itu sudah heboh berkumpul dengan teman-temannya.

Kau tak akan pernah bisa berharap kepada wanita untuk menyimpan rahasia.

Jadi jalan ceritanya seperti ini, adik kelasku itu akan menyebarkan berita tentang perlakuan Tommy kepada seluruh orang yang ia kenal, termasuk anggota klub futsal yang ia manajeri. Lalu klub futsal tersebut akan melakukan pertandingan dengan sekolah lain yang secara kebetulan dimanajeri pacar Tommy yang berhati lembut, berbalik 180 derajat dari Riza.

Pacar Tommy berzodiak Virgo. Mengidolakan Nelson Mandella dan Mario Teguh. Mempunyai tujuan menjadikan dunia tempat yang indah untuk ditinggali umat manusia. Yang takkan pernah menerima kekerasan dalam bentuk apapun. Aku heran kenapa wanita lembut seperti dia mau menjalin hubungan dengan Tommy. Dengan kata lain, Tommy tak pernah menunjukkan sifatnya yang sebenarnya di depan pacarnya tersebut.

Ini membuatku sadar, kalau gosip lebih cepat menyebar daripada kecepatan cahaya.

*

Hasilnya luar biasa.

Terjadi keributan di gerbang sekolahku. Tommy sedang dicecar oleh seorang wanita cantik, yang aku sadari pacarnya. Aku pernah melihatnya melalui foto yang Radit berikan. Keributan itu disaksikan oleh seluruh warga sekolah. Bahkan petugas keamanan sekolah membiarkannya, memberikan hiburan bagi murid-murid yang dibuat frustasi oleh bejubel ilmu yang belum tentu berguna nantinya. Hei, aku butuh ilmu bagaimana caranya hidup senang nantinya, bukannya algoritma.

“Bajingan!” caci wanita itu. Lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tommy.

Auw.

Tak lama setelah itu, hampir seluruh siswa sekolahku mendapatkan surat kaleng. E-mail tersebut berisi tulisan panjang lebar tentang kenakalan-kenakalan Tommy, mulai dari memakai sabu-sabu hingga tuduhan pemerkosaan yang membuatku terkejut. Bahkan ada foto Tommy yang sedang mabuk-mabukkan di salah satu diskotik Ibukota.

Seisi sekolah gempar, Tommy dan antek-anteknya dipanggil kepala sekolah. Rencanaku sukses besar.

Tommy hancur.

Tapi entah kenapa terasa sesak.

*

Sore harinya aku dan Radit merayakan kesuksesan kita walaupun hanya dengan beberapa botol minuman ringan dan keripik kentang di ruang OSIS yang selama dua minggu kemarin menjadi markas kami untuk melakukan sebuah spionase.

Walaupun aku menyebutnya perayaan, namun tidak ada keriuhan layaknya seseorang yang merayakan sesuatu. Aku dan Radit sama-sama diam, terlalu sibuk dengan minuman kami masing-masing. Tidak ada yang berbicara, hingga terdengar suara langkah kaki dan sedu sedan teredam di luar ruangan.

Aku melongokkan kepalaku, melihat keluar melalui jendela.

“Siapa?” tanya Radit pelan.

“Tommy.” jawabku sama pelannya.

Yang disebut belakangan ini berjalan dengan langkah gontai, menuju ke pekarangan belakang sekolah. Disana hanya ada gudang dan tempat pembakaran sampah sederhana. Dari jendela aku bisa melihat ia membuang sesuatu. Sekilas terlihat seperti sebuah kado.

“Oh iya. Sekarang kan Hari Valentine.” ucap Radit disampingku.

Setelah Tommy pergi, aku melompat keluar jendela, berlari ke arah tempat pembakaran tersebut.

“Hei! Apa yang kau lakukan?!” ucap Radit keras.

Aku tak mendengarkan. Setelah sampai di depan tempat pembakaran tersebut, kubuka tutupnya. Hawa panas menampar wajahku, apinya meretih, melumat habis semuanya. Tanpa berpikir lagi, aku merogoh-rogoh ke dalam kobaran api.

*

“Kurasa dia sangat menyukainya.”

Sesak.

“Tapi kenapa harus membuangnya?”

Sesak. Aku setengah mati menggapai udara.

“Kalau cuma gara-gara kesal terus membuang kado tersebut, bodoh sekali namanya.”

Sesak. Aku merasa ada gumpalan besar lumpur di kerongkonganku, membuatku tercekat.

“Kok bisa ya, aku dijadikan bulan-bulanan sama cowok mental kerupuk kayak di—“

“Hei!” potongnya. “Berdalih seperti itu takkan membuat rasa bersalahmu berkurang. Kau menyesal, kan? Kau tak pernah berpikir akan sejauh ini kan?”

“Kau… Kau juga, kan! K-kau juga menyesal!” teriakku. Aku gusar, berusaha mencari pembenaran.

“Aku tidak menyesal.” jawabnya dingin. “Semua berjalan sesuai rencana. Itu saja.”

Aku terpana mendengarkan jawabannya. Benarkah? Benarkah ia bahkan tidak sedikitpun merasa kasihan kepada Tommy? Apakah ia sama sekali tak menaruh simpati? Dia bengis.

“A-apa penyesalanku ini juga sesuai rencana?” tanyaku menantang.

“Benar.”

Aku hanya terperangah mendengarnya.

“Aku ini lebih dari sekedar jahat.” lanjutnya. “Tapi kau beda denganku. Kau bukan orang baik, juga bukan orang jahat. Kau hanya orang yang bodoh.”

Dia baik. Terlalu baik.

“Sekarang, pikirkanlah cara terbodoh yang bisa melegakanmu dan mengurangi rasa sesalmu.”

Lalu ia pergi. Meninggalkanku dan air mata yang tak terbendung. Aku lemah.

*

Dia datang walaupun sedang di skors. Didesak pesan singkat yang kukirimkan semalam.

“Aku menemukannya.” ucapku tanpa basa-basi, sambil memainkan sebuah bingkisan kado dengan salah satu tanganku yang masih sehat.

“Itu punya gue! Ngapain lo mungutin barang-barang gue?!” teriaknya dengan penuh emosi.

“Didalamnya ada surat cinta yang sangat manis.” lanjutku tak menghiraukan kata-katanya barusan. “Tak disangka cowok macho kayak kamu bisa bikin kata-kata semanis ini. Kalau surat ini kusebarkan ke warga sekolah, seperti apa ya responnya? Mengetahui seorang jagoan kayak kamu bisa jadi pujangga cinta juga.” kataku meremehkan.

“Si-sialan! Cepet balikin!”

“Aku punya dua syarat yang harus kamu penuhi, atau kalau tidak reputasimu akan semakin hancur.” ancamku pelan.

“Sialan! B-baik, apa syaratnya?” ucapnya dongkol.

“Yang mudah dulu.” jelasku. “RASAKAN TINJU SAKIT HATIKU!!!!!”

Semua dendam kesumat selama dua tahun terlampiaskan sudah. Selama dua minggu terakhir aku belajar dasar-dasar beladiri dari Radit ternyata tidak sia-sia, setiap pukulan yang kuberi padanya kulakukan sekuat tenagaku.

Hampir selama 20 menit aku terus menghujani setiap senti tubuhnya dengan pukulan dan tendangan, dan ajaibnya dia tak melawan dan hanya berteriak-teriak meminta ampun.

“Oke… hahh…hahh… Cukup.” ucapku terengah-engah. “Lalu berikutnya…”

Kutaruh kado tersebut didepannya.

“Ke-kenapa kau—“

“Jangan banyak tanya!!” kutinju kepalanya sekali lagi. “Kau kumaafkan. Sekarang minta maaflah padanya. Aku tahu kau sangat mencintainya. Tapi hanya kesungguhan dan permintaan maafmu lah yang akan meluluhkan hatinya. Kau dan aku sama-sama mempunyai masa lalu, jadi tidak ada gunanya hanya menyesali masa lalu tersebut. Kau takkan bisa mengubahnya, tapi kau bisa memperbaikinya. Pergilah, perbaiki semuanya.”

Aku melihatnya berkaca-kaca. Tak pernah kutahu cinta bisa membuat manusia selemah dan seterpuruk ini. Namun suatu saat, aku yakin ia akan bangkit dari keterpurukannya, karena kisah cinta paling indah akan datang bagi mereka yang memperjuangkannya.

*

Aku sedang memandang sosok Tommy Hanan yang berlari penuh semangat. Ia berlari kearah parkiran sekolah untuk mengambil motornya, lalu mamacunya kencang-kencang.

Aku sedang memandangnya ketika ia datang. Widya.

“A-ap… Apa… Apa y-yang kau lakukan d-disini?” gagapku.

“Ngg… Apa aku mengganggu?” dia balik bertanya.

“Ti-tidak kok…”

Ini saatnya! pikirku. Ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku! Sekaranglah waktunya!

“Mokahkaudidiparku! Kusukamu!” racauku tak jelas.

“Sorry?”

Sebelum berkata apa-apa aku mengambil nafas dalam-dalam, lalu berkata pelan dan lambat.

“Aku… suka kamu. Maukah kau menjadi pacarku?”

Ini dia. Penantianku selama lima tahun. Semua curi-curi pandang selama lima tahun. Lima tahun penuh kebodohan.

“Sorry?” tanyanya sambil memberi isyarat bahwa ia kurang mendengar kata-kataku.

Ap-apa? Apakah suaraku terlalu pelan?

“Aku suka kamu. Maukah kau menjadi pacarku?” ulangku lebih lambat dan lebih keras.

“Sorry?”

Aku bersumpah melihat cengiran di wajahnya selama sesaat.

“AKU SUKA KAMU. MAUKAH KA—“

Dan bibir hangatnya membuatku tak bisa menyelesaikan kata-kataku. Manis.

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s