Am I? [Part 2 of 2]

*

“Kemana sih?” seruku gusar, kubanting handphone-ku ke atas kasur. Telah berkali-kali aku hubungi namun tak juga ada jawaban darinya. Perasaanku tak enak.

Sejak kejadian di danau itu, dia tiba-tiba  menjadi pendiam. Aku takut kejadian yang dulu terulang kembali. Aku takut kehilangan lagi. Aku tak siap.

Didorong rasa cemas yang memuncak, aku mengeluarkan motorku dan memacunya kencang. Namun baru beberapa meter aku melaju, aku menginjak rem dalam-dalam, membuat ban motorku berdecit bising, meninggalkan jejak hitam di belakangku. Aku baru sadar aku tak tahu dimana Danny tinggal.

Akhirnya dengan putus asa aku menghubungi Miska.

“Siapa sih, Mis?” tanya Leon.

“Riza. Nanyain alamat kos-kosan temen gue,” jelasnya, kebingungan karena sikap Riza kali ini.

“Hah? Riza siapa? Temen lo yang mana?” tanya Frans yang sedang menekan-nekan tombol joystick dengan liar.

Saat itu Frans, Leon, Revan, Tian dan Miska sedang belajar bareng. Atau lebih tepatnya Revan, Tian dan Miska belajar, sisanya hanya  bermain PS selama berjam-jam.

“Memangnya ada berapa Riza yang lo kenal?” sahut Miska seraya melempar Frans dengan karet penghapus. “Dia nanyain Danny, temen sekelas gue yang lagi sakit.”

“Danny? Cowok?” tanya Revan.

“He-eh.” jawab Miska sambil lalu.

“Hmm…” gumam Revan sambil berpikir, mengernyitkan dahinya dalam-dalam.

“Kenapa?” tanya Tian, heran melihat kelakuan temannya yang cukup waras ini.

“Lo nggak curiga?”

“Hah? Curiga? Curiga sama siapa?” tanya Tian makin heran. Melupakan hitung-hitungan kalkulusnya dan sepenuhnya menaruh perhatian pada kata-kata Revan selanjutnya, begitu pula Miska.

“Riza. Apa lo semua nggak sadar kalau sikapnya akhir-akhir ini agak… berbeda,” Jelas Revan pelan.

“Sebentar, Van,” ucap Tian kalem, lalu dia beranjak ke arah Frans dan Leon dan memukul kepala mereka dengan kamus Inggris-Indonesia milik Miska serta mematikan televisi.

“Oke… Lanjut, Van,” katanya setelah kembali duduk nyaman sedangkan Frans dan Leon meringis kesakitan.

“Iya, memangnya lo nggak sadar kalo kelakuan Riza akhir-akhir ini berbeda? Dia jadi jarang main sama kita lagi, pulang sekolah langsung pulang, sering senyum-senyum sendiri, anehlah pokoknya,” jelas Revan.

“Jangan-jangan…” ucap Frans dengan nada paling serius yang belum pernah didengar teman-temannya, membuat teman-temannya takjub,  “…dia lagi puber kedua.”

Selama satu menit kepalanya menjadi bulan-bulanan para kera lainnya.

“Gue sempet mikir dia make narkoba, tapi nggak ada tanda-tandanya kalau dia habis make barang haram itu,” lanjut Revan. “Satu-satunya yang kepikiran sama gue, kalau dia jatuh cinta.”

Pernyataan Revan itu membungkam mereka, menciptakan hening. Masing-masing dari mereka sibuk berpikir. Memang kalau diingat-ingat lagi, sikap Riza sangat aneh. Ia jadi sering tersenyum sendiri ketika melihat handphone-nya, mukanya lebih berseri-seri, persis orang yang dimabuk cinta.

“Tapi sama siapa?” Miska berbisik pelan, masih sibuk berpikir.

“Temen lo ini… Danny… Dia punya adik? Atau kakak? Atau temen perempuan?” tanya Tian yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Miska.

“Atau jangan-jangan…” ucap Frans dengan nada serius yang sama yang ia ucapkan tadi, “… dia sama Danny…”

Namun kali ini sama sekali tidak ada yang memukul atau menendang Frans, masing-masing dari mereka sibuk memikirkan kemungkinan ini. Berkali-kali Riza membohongi para wanita dengan menyatakan bahwa dia gay semakin memperkuat dugaan mereka. Tapi Riza bukanlah lelaki kemayu, ia tak mungkin menjadi gay.

*

Kini dihadapanku ada sebuah pintu berpelitur mengkilap dengan angka enam terbuat dari lempengan besi tergantung di atasnya. Kos-kosan ini terbilang mewah. Aku tak tahu Danny sekaya ini.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengetuk pelan pintu tersebut.

“Masuk…” terdengar suara lirih dari dalam, dengan canggung aku membuka pintu dan melangkah masuk.

Aroma Danny semerbak diudara, aku menghirupnya dalam-dalam, memberi rasa nyaman yang aneh di dada. Kulihat sekeliling ruang depan yang juga menjadi ruang belajar, disinilah Danny belajar setiap malam. Memikirkan hal itu membuatku tersenyum.

“Siapa?” tanya suara lirih tadi, dan munculah Danny dari ruang tengah.

Aku hanya tercengang melihat penampilan Danny yang sungguh kacau. Wajah putihnya sekarang merah padam, bola matanya memerah, pipinya sedikit tirus, rambutnya semrawut. Mengenaskan.

“Oh… Hei, Za. Sini masuk,” ajaknya, dan ia menghilang, kembali ke ruang tengah yang disulapnya menjadi kamar tidur. Ditengah ruangan, terdapat kasur yang cukup besar dan terlihat nyaman. Ia membanting tubuhnya ke atas kasur, berbaring diam sebentar.

“Sorry ya, aku nggak bisa jawab telpon dari kamu. Aku lagi nggak enak badan banget,” jelasnya pelan, suaranya agak serak.

“Lo… Lo sakit, Dan?” tanyaku khawatir, duduk disebelahnya.

“Iya, cuma demam kok. Udah minum obat. Nggak usah khawatir,” jelasnya pelan seraya memejamkan matanya menahan sakit.

“Demam lo tinggi banget, Dan!” aku berseru ketika tanganku menyentuh dahinya yang panas. Ia hanya mengerang pelan. Lalu aku mengeluarkan handphone-ku dan dengan cepat menghubungi salah satu nomor yang ada.

“Iya, Dok… Parah banget, demamnya tinggi… Gue nggak tahu, empat puluhan kayaknya… Oh, oke… Oke… Lo bisa sampai sini berapa menit lagi? Hah? Kelamaan… Oke… Cepet ya… Oke, trims, Dok.”

“Siapa?” tanyanya pelan, menyipitkan mata memandangku.

“Dion, dokter pribadi gue,” jawabku cuek dan mulai beranjak ke lemarinya, mencari-cari sapu tangan namun tak kutemukan. Aku berkali-kali tergoda untuk menyentuh celana dalamnya, namun teringat gawatnya situasi sekarang membuatku mengurungkan niatku. Akhirnya aku menemukan sebuah kaus oblong yang mungkin bisa kugunakan.

“Aku nggak perlu dokter, Za. Udah, suruh pulang ajah,” ratapnya.

Aku tak mengindahkan ratapannya dan terus berjalan mencari-cari baskom kecil dan beberapa buah jeruk nipis. Ketika semua sudah tersedia, aku kembali ke kamar tidur.

“Kamu mau ngapain?” tanyanya heran, mencoba bangkit untuk duduk.

“Mau ngompres lo, disuruh dokter,” ucapku sambil membantunya untuk duduk, kemudian melepaskan kaus yang ia pakai.

“Eh? Kok buka baju segala?”

“Hah? Eh… I-iya, sekalian ngelap badan lo terus dibalurin sama air jeruk nipis biar demamnya turun.” jawabku dengan sedikit gugup, terpesona melihat dada telanjangnya.

Butuh waktu yang cukup lama untuk membalurkan seluruh tubuhnya dengan jeruk nipis. Dan ketika Dion datang, Danny sudah memakai baju yang baru dan dahinya sudah dikompres, penampilannya terlihat lebih baik.

“Selamat sore. Saya Dion, dokter pribadinya Riza. Kamu?” ucapnya riang seraya mengulurkan tangan kepada Danny yang sedang berbaring.

“Danny, Dok,” jawabnya sambil tersenyum lemah.

“Oke, Danny, sekarang kamu akan saya periksa, tapi sebelumnya…” katanya lalu membalikan badannya ke arahku, “Lo bisa tunggu di luar kok.”

“Hah? Kenapa?” tanyaku heran melihat senyum jailnya, perasaanku tak enak.

“Prosedur, atau lo lebih suka gue suruh pulang?” ucapnya mengancam.

Aku yang tak mengerti apa-apa mengenai prosedur berpaling ke arah Danny, memohon penjelasan, namun yang disebut belakangan ini hanya menggelengkan kepala dengan raut muka heran, sama tidak tahunya denganku.

Dengan perasaan dongkol, aku bangkit dari dudukku, beranjak ke arah pintu, namun sebelum hilang dari pandangan, aku berkata kepada Dion.

“Jangan macem-macem,” ancamku pelan.

“Berisik,” tukasnya lalu ia mendorong punggungku keras.

*

“Jadi dia sakit apa, Dok?” tanyaku setelah dibiarkan menunggu hampir setengah jam oleh Dion, si dokter menyebalkan.

“Dia gejala tifus, barusan gue udah ngambil darahnya buat diperiksa lagi di lab,” jelasnya singkat.

“Ooh…”

“Lo nggak usah bayar, dia udah kasih servis ke gue,” ucapnya tiba-tiba.

“Hah? Apa?” tanyaku tak mengerti.

“Iya, kulitnya kenyal banget. Bibirnya apalagi, manis banget, bikin nagih.” jelasnya, menyeringai.

Aku hanya terdiam, shock ketika kata-katanya mulai terserap dan otakku mulai paham.

“HUAHAHAHAHA!!!” gelegar tawanya membuatku kaget dan tersadar.

“Dongo!” ucapnya sambil menoyor kepalaku keras, lalu ia tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.

“Lo kenapa? Shock? Cemburu?” ledeknya ketika tawanya sudah reda, “Gue nggak bakal ngerebut gebetan temen kali.”

Kata-katanya membuat mukaku merah padam, ternyata ia tahu.

“Udah, tenang ajah, baru gejala kok, istirahat yang cukup juga nanti sembuh. Tapi lebih cepet sembuh loh kalau dapet ciuman dari orang-orang terkasih.” ledeknya lagi.

“Udah, sono pergi!” seruku dongkol.

“Oke, oke, nanti hasil labnya bakal secepatnya gue kabari ke lo. Sekarang gue balik lagi ya ke rumah sakit. Lo jagain dia yang bener,” ucapnya menasehati.

“Iya, iya, bawel,” jawabku.

“Oke, bye,” pamitnya tak lupa mengacak-acak rambutku.

*

Danny tertidur nyenyak. Dan selama ia tertidur, aku sempatkan mencari makanan untuk dia makan ketika terbangun nanti. Aku juga sedikit merapihkan kamarnya.

“Za?” gumamnya lirih.

Aku yang sedang melihat-lihat koleksi buku milik Danny menoleh ke arahnya.

“Hmm?” gumamku pelan, seraya membantunya untuk duduk.

“Kamu masih disini?” tanyanya heran,”Hah? Aku tidur udah empat jam?”

“Iya, gue nungguin lo. Nih makan,” ucapku sambil menyodorkan semangkuk bubur yang tadi kubeli. Ia hanya mengernyit melihat bubur yang kusodorkan. Sudah kuduga nafsu makannya hilang, karena itulah aku menunggunya bangun untuk memastikan dia memakan buburnya dan meminum obat yang Dion beri.

“Ayo, makan!” perintahku sambil mengarahkan sesendok bubur ke mulutnya, menyuapinya.

Ia tak berkata apa-apa hanya makan dalam diam. Ketika sudah habis setengah, ia menyerah. Aku mengerti, lalu kusodorkan dia segelas air dan beberapa butir kapsul dan tablet yang diresepkan oleh Dion.

“Bagus. Sekarang lo istirahat yang banyak. Dokter Dion bilang lo cuma gejala tifus, tapi tetap harus istirahat sama makan yang banyak supaya cepet sembuh, ngerti?” jelasku panjang lebar, yang ditanya hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Eh, Za.” panggilnya ketika aku membereskan mangkuk, gelas dan plastik-plastik obatnya

“Hmm?”

“Dokter Dion… aneh ya…” ucapnya sambil mengernyitkan dahi, heran. Aku menimbang-nimbang sebelum menjawab.

“Dia gay.” jelasku singkat.

“Oh.” gumamnya mengerti.

Aku melihat ekspresinya, mencari-cari emosi, setengah berharap kalau ia akan jijik, kalau benar begitu maka akan mudah bagiku untuk menyerah padanya. Namun yang kulihat hanyalah wajah polosnya yang sedang berpikir keras. Sedikit banyak membuatku lega.

“Kenapa memangnya?” tanyaku penasaran.

“Ngg… Nggak kok, tadi dia cuma mencoba jelasin beberapa hal ke aku.”

“Ooh…” gumamku tak mengerti.

Ketika aku selesai mencuci mangkuk dan gelas kotor, aku mendengar dengkur halusnya. Kulihat di jam tanganku malam telah larut, waktunya untuk pulang. Sebelum aku pulang, aku menuliskan sebuah surat untuk sekadar mengingatkannya minum obat dan istirahat yang banyak, setelah itu aku menyimpannya di atas meja belajarnya.

Ragu-ragu, aku mengecup keningnya lembut.

*

Selama sisa minggu itu, setiap pulang sekolah aku menyempatkan diri untuk ke kos-kosan Danny. Kondisinya semakin hari semakin membaik, demamnya turun, ia bahkan sudah bisa berjalan dengan mantap. Ia menuju sembuh.

Dengan hati berbunga-bunga, layaknya wanita yang baru saja mengalami cinta pertama, aku berangkat ke sekolah. Bersenandung riang disepanjang perjalanan. Bahkan wajah kera-kera yang biasanya bikin mual di pagi hari itu terlihat 100x lebih manis.

“Pagi, guys,” sapaku ceria. “Pagi-pagi udah rumpi ajah lo-lo semua kayak emak-emak puber kedua.”

Tidak ada yang tertawa mendengar gurauanku pagi itu. Aku mencium gelagat-gelagat aneh pada mereka yang sedari tadi memerhatikan penampilanku dari atas sampai bawah.

“Kenapa sih?” tanyaku heran.

“Lo kemana ajah kemaren abis balik sekolah?” tembak Frans langsung tanpa menghiraukan pertanyaanku.

“Ngg… Gue… Gue dirumah ajah,” jawabku berbohong.

“Ooh… Dirumah…” ulang mereka kompak.

“Kenapa sih?” desakku.

“Eh… Kemana sweater ungu lo itu?” sekarang giliran Leon yang bertanya.

Oh my… Mereka tahu.

“Ngg… Dicuci,” gumamku tak jelas. Sebenarnya sweater itu masih kupinjamkan kepada Danny.

“Ooh.. Dicuci.”

“Sekarang lo jawab jujur ya pertanyaan gue,” pinta Tian pelan sambil menatap mataku dalam-dalam. “Lo kenal Danny?”

Oh my… Mereka tahu.

*

“Iya… Iya, dia nggak apa-apa kok… Oke… Iya… Nggak kok… Nggak ngerepotin sama sekali… Oke… Sama-sama… Bye.”

Aku terbangun karena mendengar suaranya. Mataku terasa perih dan lengket. Rasa pusing tiba-tiba menyerangku ketika aku berusaha untuk duduk tegak.

“Jangan duduk dulu, Za.” ucap Danny lembut.

Hah? Danny?

Lalu kesadaran mulai menghantamku. Aku teringat bagaimana aku lari dari hadapan teman-temanku setelah mereka menyudutkanku, terbirit-birit pergi dari parkiran sekolah, mengendarai motor dengan gila-gilaan, dan tanpa sadar aku sudah berada di depan pintu kos Danny. Aku memeluknya dan menangis dalam pelukannya sampai kelelahan.

“Tadi… Lo nelpon siapa?” tanyaku pelan.

“Miska,” jawabnya. “Nih minum.”

“Hmm,” gumamku lalu menghirup pelan-pelan teh hangat yang ia sodorkan.

“Aku tahu kamu nggak bakalan cerita sama aku tentang masalah kamu,” katanya sambil tersenyum maklum, “Kamu nggak tau kan betapa khawatirnya aku ngeliat kamu dengan tampang berantakan tiba-tiba berdiri di depan pintu kos?”

“Sorry… Gue bisa kok nyeleseinnya sendiri. Gue harus nyeleseinnya sendiri,” ucapku pelan.

Dan aku tahu, aku harus menyelesaikannya, terlepas dari bisa atau tidak. Aku harus menuntaskan masalah hati ini secepatnya. Ya. Secepatnya.

*

“Gue tau, lo semua jijik sama gue,” ucapku pelan. “Sekarang terserah kalian mau ngejauhin gue atau musuhin gue atau apapun, terserah.”

DUG!

“ADUH!!!” jeritku keras. Sakitnya luar biasa.

“Sekarang gue udah lega,” ujar Tian. Ternyata dialah yang membuatku hampir gegar otak.

“Thanks, Yan. Gara-gara lo gue gak harus jadi orang yang nyadarin kera satu ini,” ucap Frans riang.

“Ta-tapi—“ gagapku keheranan.

“Diam!” seru Tian keras, menakutkan.

“Diam,” katanya sekali lagi, dengan nada rendah penuh ancaman, “atau lo bakal dapet bogem gue lagi.”

Aku yang diancam hanya bisa diam.

“Pertama,” jelas Tian, “dari dulu kelakuan sama tampang lo emang udah bikin kita jijik, jadi dulu sama sekarang nggak ada bedanya buat kita.”

Perkataan ini membuat Frans, Leon, Revan, dan Miska tertawa

“Kedua,” lanjutnya pura pura galak, “nasi goreng lo terlalu enak, rugi banyak kalau kita jauhin lo.”

Teman-temanku tertawa makin keras, mau tak mau aku ikut tersenyum.

“Ketiga,” ucapnya dengan lembut, “kita ini sahabat-sahabat lo. Mana mungkin kita ngejauhin lo cuma gara-gara lo punya cinta yang berbeda dari kita-kita? Mau lo suka sama cewek kek, cowok kek, mau lo suka sama kambing kek, kita nggak peduli, yang kita peduli tuh cuma kebahagiaan lo. Kalau lo bahagia dengan jalan lo sekarang, kita akan selalu dukung lo.”

Kata-katanya membuat tenggorokanku tercekat, membuatku terharu. Dan ketika aku memandang mereka satu persatu, yang kulihat hanyalah persetujuan dan ketulusan yang nyata di mata mereka. Membuatku tak bisa lagi membendung air mata.

“Jangan menangis, Sayang,” canda Leon sambil mengusap air mataku lalu memelukku. Aku hanya menepis tangannya dan tertawa.

“Nah,” kata Miska disela-sela tawa kami yang membahana, “masalah Danny gimana? Lo yakin?”

Aku hanya tersenyum. Cinta tahu kok kemana ia akan pergi.

*

“Thanks ya, Za,” ucap Danny berterima kasih sambil menyodorkan sweaterku. Kondisinya sudah pulih total. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di taman favoritku yang pernah kukunjungi bersamanya dulu. Aku yang mengajaknya kesini.

“Yo, sama-sama,” ujarku pelan.

“Ngg… gimana? Masalah kamu sudah selesai?” tanya dia takut-takut.

Dan untuk sesaat aku mengingat-ingat peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir, geli sendiri.

“Za?” tegur Danny pelan, meminta jawaban.

“Hah? Oh, iya. Ada satu yang belum,” ujarku sambil tersenyum.

“Oh? Ngg… Ada yang bisa kubantu?” tanya dia ragu.

“Hmm,” jawabku sambil pura-pura berpikir, “mungkin lo bisa bantu.”

“Apa? Apa yang bisa kubantu?” ujarnya.

Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badanku ke arahnya. Ia juga melakukan apa yang kulakukan.

“Lo tahu? Semenjak pertama ketemu sama lo, gue mengalami berjuta masalah?” jelasku, mengawasi ekspresinya yang kebingungan. “Kini hampir semua masalah-masalah itu telah terselesaikan, kecuali satu.”

Ia hanya diam, menunggu penjelasanku berikutnya.

“Satu-satunya masalah gue sekarang, gue… jatuh cinta sama lo,” ucapku pelan.

Berjuta emosi terlihat dari matanya, namun aku tak bisa memahaminya. Apakah itu kecewa? Bingung? Marah, sedih, tak percaya, ataukah senang?

“Tapi, kita kan… kita kan sama-sama cowok?” tanyanya salah tingkah.

“Gue udah mikirin hal itu berjuta-juta kali. Dan berjuta-juta kali pula gue udah gagal dapet jawabannya. Cinta ini terlalu abu-abu, tapi lo bakal mengerti rasanya jika lo berhenti make otak lo dan mulai make hati lo.”

“Tapi tetep, Za, kita sama-sama cowok. Perasaan kamu nggak wajar. Ini nggak wajar’” tukasnya.

“Terus kenapa? Perasaan gue ini riil! Berkali-kali gue mencoba menghilangkan rasa ini, tapi lo tau? Sia-sia! Semua usaha gue sia-sia! Gue cinta sama lo! Beri waktu sebentar buat hati lo, please, berhenti make otak lo buat mengerti ini semua,” pintaku memelas. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi agar ia mengerti, agar ia menyambut cintaku.

Kulihat ia sejenak ragu-ragu lalu memejamkan matanya. Lama.

“Ini… Ini sinting…” gumamnya tak percaya sambil membuka mata, “Aku… Aku nggak bisa berhenti make otak aku, karena… karena… karena otak aku terus-terusan ngebayangin kamu. Ini gila. Aku pasti sudah gila.”

Kata-katanya membuatku merasakan berjuta kupu-kupu terbang memenuhi perutku.

“Ap-apakah ini benar-benar cinta? Apakah aku… apakah aku benar-benar cinta kepadamu? Karena… karena yang kuingin sekarang hanyalah bisa berada disisimu… selamanya,” ucapnya pelan.

Lalu ketika melihatnya tersenyum kearahku, aku menciumnya. Ciuman yang lama dan manis.

Dan cinta tahu kemana ia akan pulang.

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s