Am I? [Part 1 of 2]

“Gue suka sama lo.”

Dia mengucapkannya dengan lantang dan tanpa malu-malu, dadanya yang sudah busung makin dibusungkan.

Duh, kenapa harus kayak gini lagi sih?

“Apa yang buat lo suka sama gue?” tanyaku, pura-pura salah tingkah dengan sangat meyakinkan.

“Hmm… Lo itu baik, manis, tipe gue banget deh,” jawabnya sambil mesem-mesem.

Duh, kenapa harus jawaban standar kayak gini lagi sih?

“Sorry, Nin. Tapi… gue udah suka sama seseorang, dan orang itu bukan lo,” jelasku dengan memasang wajah menyesal palsu.

Nindy hanya terperangah. Shock mendengar jawabanku atas pernyataan cintanya. Aku yakin ia yakin kalau aku akan menerimanya, namun dia salah. Nindy yang cantik, sexy, menggoda, dan populer… sayangnya sama seperti yang lain. Sama seperti cewek-cewek dangkal lainnya, yang berpikir cinta hanya cinta.

Aku muak. Ini adalah pernyataan cinta kesekian yang kuterima sejak aku sekolah di SMA Tunas Harapan, sejak aku memulai debutku sebagai cowok populer. Miris. Dikala aku ingin menjauh dari hal-hal berbau cinta, cewek-cewek dangkal ini malah datang membuka lapak, menawarkan cinta yang sama dangkalnya. Cewek didepanku ini salah satunya.

“L-lo udah p-punya pacar?” tanyanya tergagap, kulihat rasa percaya dirinya mulai runtuh.

“Iya, Nin. Sorry banget ya. Lo cantik kok, pasti bisa dapet yang lebih dari gue,” jawabku basa-basi.

“S-siapa?” tanyanya keras kepala, tak memperdulikan kata-kata penghiburan dariku.

Duh, kenapa harus ngegali kuburan sendiri sih nih cewek?

“Gue punya kok fotonya,” ujarku sambil mengeluarkan sebuah foto dari dompet. “Nih.”

Reaksinya sudah bisa ditebak.

“D-dia?” tanyanya tak percaya.

“Iya, gue sayang banget sama dia. Kita memang nggak satu sekolah, namanya Di—“

PLAKKK

“DASAR HOMOO!!!” teriaknya kencang.

Aduh, kenapa gue harus kena tampar lagi, sih?

*

“HUAHAHAHAHAHA…”

Empat kera bodoh itu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ceritaku. Aku yang mengharapkan sebuah kata-kata penghiburan dibuat gondok. Punya teman-teman nggak guna kayak mereka memang bikin tensi darah sering naik. Bedebah.

“Puas lo semua?” hardikku kesal.

“Jadi, lo beneran nolak si Nindy? Nindy cewek kece yang populer itu? Nindy yang ‘Toge Pasar’ itu?” tanya Frans sambil mengambil dua buah mangkuk dari rak piring dan menangkupkannya didada, membentuk ‘itu’-lah. Aku hanya mengangguk.

“Dongo!” teriaknya kencang persis ditelingaku seraya menoyor kepalaku, membuat teman-temanku yang lain tertawa makin kencang.

“Dan lo ngasih alesan pake foto itu lagi? Foto Dion?” sekarang giliran Leon yang bertanya, yang kujawab masih dengan anggukan kepala.

“Emang super dongo temen kita yang satu ini,” jelasnya kepada yang lain, diikuti oleh anggukan kepala dan gumam setuju.

“Kalo lo semua masih bilang gue ‘dongo’, gue bakal tambahin baygon ke nasi goreng ini,” ancamku sambil mengacung-acungkan sodet ke muka mereka masing-masing.

“Jangan! Iya deh, sorry… Sory…”

Sekarang kami berlima sedang berkumpul dirumahku. Acara ini rutin dilakukan jika ada salah satu dari kami yang sedang BT, dan kali ini aku yang BT. Semua karena perih di pipi masih terasa. Lain kali aku akan menggunakan cara lain yang lebih tidak menyakitkan, aku janji akan memikirkannya.

Walaupun aku yang lagi nggak mood, tetap saja aku yang harus memasak. Kera-kera ini mana mungkin kubiarkan memasak, yang ada nanti kita semua mati keracunan.

“Gimana? Udah mateng belum nasi goreng spesial homonya?” canda Tian.

Dan mereka semua terbahak-bahak. Aku yakin mereka pasti titisan Dajjal.

*

“Tapi gue masih gak kepikiran kenapa lo gak kepikiran buat punya cewek lagi setelah… siapa? Itu mantan lo dulu siapa namanya?” tanya Leon berbelit yang memang sudah menjadi sifatnya, kabar burung bilang otaknya lebih kusut dari rambut gimbal anak-anak Reggae.

“Kan udah gue bilang kalau gue lagi males pacar-pacaran,” jawabku sekenanya, menghindari menjawab pertanyaannya yang lain.

“Tapi kok lu betah sih jomblo lama-lama? Hampir dua tahun, man! Gue sih nggak bisa deh lebih dari seminggu. Kan semua orang tahu kalau lo itu ganteng, otak lo encer, tajir pula. Apa yang cewek-cewek cari ada di lo semua. Lo tinggal pilih mau icip-icip yang mana. Gue mau deh tuker nasib sama lo,” kata Frans dengan mulut penuh. Kalau kabar burung yang beredar, Frans cuma punya otak yang berukuran setengah dari otak normal.

“Penjahat kelamin kayak lo sih gue gak heran. Kalau udah bosen ikeh-ikehan, langsung dibuang deh, terus nyari yang lain.” jawabku cuek, yang langsung dilempari daun-daun selada dari orangnya.

“Emangnya Steff bener-bener bikin lo sakit hati ya, Za?” tanya Revan tiba-tiba, membuatku terdiam.

Dan acara makan-makan yang biasanya berlangsung riuh itu kini terasa hening, tak mengenakkan.

“Udahlah, jangan bikin gue tambah bete,” ucapku pelan sambil menusuk-nusuk telur diatas piringku, seleraku hilang.

“Tapi, Za—“

“Udahlah, Van,” ucap Tian menengahi.

“Tapi, Yan, kita udah temenan selama bertahun-tahun. Sebelum kencing kita lurus juga kita udah temenan,” ucapnya kepada Tian. “Terus buat apa temenan kalau hal-hal kayak gini nggak mau lo bagi, Za?” desak Revan keras kepala.

Aku hanya menunduk, memainkan makananku. Hening lama.

“Tapi, Za… apa yang Revan bilang ada benernya,” kata Tian memecahkan keheningan. “Kita udah temenan lama banget loh.”

Aku bimbang. Dan ketika aku mengangkat kepala, yang kulihat hanya ketulusan di mata mereka.

*

“Aku ingin kue perayaan kita nanti bakal lebih bagus dari punya Intan. Memang sih, mereka beli di toko kue, tapi itu bikin kuenya jadi kurang spesial. Sedangkan kita udah punya rencana kalau kue kita itu bakal kita bikin bareng-bareng. Terus…”

Aku tak mendengarkan lagi, terpesona oleh senyumnya yang secerah mentari, memudarkan warna disekelilingnya. Kecantikannya sungguh egois. Dia cinta matiku.

“Auw!”

Ia menabrak seseorang dalam kerumunan, membuatnya terpental dan jatuh, namun lelaki itu lebih cepat menangkap Steff daripada aku.

“Steff?” katanya terperangah mengenali pacarku yang kini dalam dekapannya.

“A-andy?” gagap Steff. Ia buru-buru berdiri tegak.

“Kamu… kamu ngapain disini, Steff?” tanya lelaki ini, Andy kalau aku tak salah dengar.

“A-aku… Aku… Yuk, Za” ucapnya gusar sambil menggamit tanganku, tergesa-gesa untuk segera pergi dari sana.

*

“Siapa Andy?” tanyaku setelah hening cukup lama.

Kini kita berdua berada di sebuah café yang lokasinya cukup jauh dari mall yang baru saja kita kunjungi.

“Dia… bukan siapa-siapa kok,” ucapnya pelan.

Walaupun baru beberapa bulan kita resmi  pacaran, tapi aku merasa sudah mengenalnya seumur hidup, dan aku tahu kalau ia berbohong sekarang.

“Jujur sama aku, please,” ucapku sambil meremas lembut tangannya yang ada dalam genggamanku.

Namun dia hanya diam dan menarik lepas tangannya dari genggamanku.

*

“Seharusnya gue terus mendesak dia sampai gue dapet jawaban. Tapi gue terlalu sayang sama dia. Akhirnya gue lebih memilih diam dan bersikap seperti gue nggak pernah tahu dan nggak pernah ketemu Andy,” kataku.

Kini aku melihat rasa kasihan dan prihatin di mata mereka.

“Itu kali terakhir gue ngeliat dia. Dua hari setelah itu, seharusnya kita berdua ada perayaan. Kita udah janji bakal bikin kue bareng dirumah gue. Tapi dia nggak pernah dateng. Kabar terakhir yang gue dapet, dia kawin lari sama cowok lain,” jelasku.

Lama hening. Kemudian…

PREEETT

Suara kentut itu seketika menghapuskan kesedihan yang mengambang di udara, menggantikannya dengan aroma busuk. Semua orang melempari Frans dengan selada.

“Sorry… Sorry… Gue kalau lagi sedih memang suka kentut-kentut melulu. Sorry ya, Za,” ucapnya sambil cengar cengir. Mustahil memang berharap kera-kera ini untuk sedikit saja menaruh simpati.

“Gue kecewa, Za. Lo bisa-bisanya mendem kesedihan ini buat diri lo sendiri,” kata Tian. “Gue harap kedepannya lo gak nyimpen semuanya sendirian lagi ya, Za?” pintanya lembut.

Gue tiba-tiba merasa bersyukur punya kera-kera kayak mereka.

“Ayo dong kita pelukan.” seru Leon.

Dan kita semua berpelukan. Saling merangkul satu sama lain. Kami adalah cowok macho berhati teletubbies.

*

Esoknya, sehari setelah aku menolak Nindy, bisik-bisik mulai terdengar dari para cewek-cewek. Ini wajar saja, karena yang kutolak kemarin adalah salah satu idola sekolah berparu-paru besar, ketua geng cewek-cewek cantik, yang mampu menetapkan standar ‘keren’ di Tunas.

“Heran deh sama cewek-cewek disini, padahal udah berkali-kali muncul gosip tentang gue yang homo, tapi masih ajah pada gatel ngejar-ngejar gue. Emang kurang setengah otak cewek-cewek jaman sekarang,” dumelku sambil menghembuskan asap rokok yang barusan kuhirup.

“Lo juga nggak pernah blak-blakkan sih. Lo cuma pura-pura jadi gay didepan mereka yang nembak lo doang, sisanya yang lain cuma denger dari bisik-bisik ajah. Mereka pikir itu cuma gosip. Itu yang bikin mereka nggak ada henti-hentinya buat dapetin cowok populer kayak lo,” jelas Revan.

“Iya. Tapi gue udah muak, udah bosen, udah capek. Gue jijik dengar alasan-alasan mereka. Emangnya mereka pikir mereka bakal tetap suka sama gue kalau gue udah lumpuh? Udah gila? Udah miskin? Cewek-cewek bego, dasar!” umpatku geram.

“Tapi lo beneran bukan gay kan?” tanya Frans tiba-tiba dengan nada serius. Pertanyaan ini telah dia lontarkan berkali-kali.

“Dongo! Lo pikir siapa yang minjemin lo Miyabi Collection sampai bikin dengkul lo pecah?” ucapku dongkol sambil melempari Frans dengan kuaci.

“Hehehe… Sorry… Marah-marah melulu lo ah kayak perawan,” candanya membuat teman-temanku yang lain tertawa.

Aku hanya diam dan menghisap rokokku dalam-dalam. Terlanjur keki.

“Eh, Za, tapi lo kudu hati-hati sama omongan lo. Kalau nanti jadi gay beneran baru tau rasa loh,” ucap Revan tiba-tiba. Dia ini yang paling bijak dan paling pintar diantara kera-kera yang lain, tapi omongannya tidak pernah membesarkan hati. Seredet.

Aku hanya cuek, capek meladeni kera-kera, menikmati ingar bingar kantin Tunas.

*

“Sorry telat, Mis,” ucapku  sambil terengah-engah.

“Yo, nggak apa-apa, udah biasa kok. Kenapa bisa telat?” tanyanya cuek sambil tetap lanjut membaca.

Selain Frans, Leon, Tian dan Revan, aku masih mempunyai seorang teman cewek bernama Miska. Kita  berenam sudah bersama sejak pertama kali masuk SMP, namun Miska memutuskan untuk lanjut ke SMA khusus orang-orang cerdas. Orang-orang aneh lebih tepatnya. Karena manusia normal mana yang lebih suka buku “Algoritma Dan Struktur Data Dengan C#” daripada komik One Piece?

Miska cukup manis. Berambut panjang yang selalu dibuntut kuda, berkulit putih bersih dan berkacamata. Sayangnya ia sama sekali tidak tertarik kepada cowok manapun. Ia hanya tertarik pada bagaimana proses membelah diri yang dilakukan oleh Amoeba. Sehingga aku dan para kera berpikir kalau Miska hanya akan mampu berejakulasi ketika menemukan obat kanker.

“Parkirnya susah. Lagian lo ngapain sih ngajakin nonton pas weekend? Penuh banget ini mall, tiket nontonnya juga mahal,” gerutuku.

“Sorry… Sorry… Gue butuh banget refreshing nih, abis ujian soalnya,” ujarnya cuek sambil tetap melanjutkan membaca buku.

“Yuk ah,” ajakku keluar dari toko buku besar itu, merasa sumpek.

Perlu waktu yang cukup lama untuk mengeluarkan Miska dari toko buku tersebut. Namun setelah kuancam kalau buku-buku kesayangannya akan kubakar, barulah ia berjalan keluar dari toko tersebut dengan bersungut-sungut.  Aku tertawa melihat kelakuannya, yang langsung berganti keheranan ketika dia terus saja jalan melewati lift yang seharusnya kami gunakan untuk segera sampai ke bioskop yang terletak di lantai paling atas mall ini.

“Hei! Mau kemana?” seruku, membuatnya berhenti dan berbalik.

“Oh iya, gue lupa ngasih tau lo. Gue juga ngajak temen gue,” ujarnya polos sambil menepuk pelan dahinya yang lebar.

“Bilang dari tadi, bego,” kataku sambil menjitaknya. “Temen lo udah dateng?”

“Aduuh…” ucapnya kesakitan. “Katanya sih udah, tapi gue belum liat nih batang hidungnya.”

Untuk sesaat dia memerhatikan hiruk pikuk mall tersebut, mengedarkan pandang, beruasaha menemukan temannya. Aku mencoba ikut mencari namun teringat kalau aku tak tahu tampangnya. Jadi yang aku lakukan hanya berdiri bengong seperti orang bodoh. Tiba-tiba Miska berseru sambil menunjuk-nunjuk.

“Itu dia, Za! Itu!”

“Oooh,” ucapku asal saja, malu melihat kelakuannya yang berlari-lari seperti anak kecil ke arah yang tadi ia tunjuk-tunjuk. Aku mengikutinya pelan sambil melihat-lihat toko yang ada disekitarku, tak terlalu mempedulikan sosok temannya tersebut. Paling-paling cewek itu sama anehnya dengan Miska, dengan kata lain sama sekali tidak menggairahkan.

“Hai, Dan! Udah lama ya?” seru Miska ceria.

“Enggak kok, aku juga baru dateng,” jawab sebuah suara.

Ooh… Cowok…

Aku yang sedang sibuk melihat rak-rak penuh roti di salah satu toko di dekatku tidak terlalu berminat untuk ikut nimbrung pada obrolan basa-basi tersebut. Pikiranku melayang-layang kepada bermacam-macam roti bersalut cokelat lezat tersebut, membuatku keroncongan.

Lama mereka mengobrol sambil berdiri, aku yang merasa lelah akhirnya memutuskan untuk duduk lalu menghempaskan bokongku ke kursi tak jauh dari sana. Pikiranku melayang kesana-kemari tak tentu arah. Lalu tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara cempreng Miska.

“Riza! Duluan ya!”

“Eh, mau kemana lagi?” seruku keheranan, namun Miska tak menjawab, aku curiga kalau dia belum membersihkan kotoran telinganya sejak setahun yang lalu.

“Cewek edan,” dumelku pelan.

Dan tiba-tiba seseorang duduk disampingku.

Oh my…

Aku mengerjap-ngerjapkan mata dengan liar, memaksanya untuk fokus ke pemandangan di depanku. Awalnya aku kira telah salah lihat, namun ini bukan fatamorgana, bukan ilusi. Apa yang kulihat telah merenggut seluruh nafas.

Dan ketika ia mengangkat kepala, kami bertemu pandang.

Oh my…

*

KRUYUUUK…

Duh, kenapa harus sekarang sih?

Dia hanya tersenyum. Kedua bibirnya yang berwarna merah muda membentuk kurva ganda sempurna, indahnya terlalu menyilaukan hingga membuat mataku perih. Kurasa ia juga mendengar perutku yang berbunyi keroncongan, karena setelah itu ia merogoh-rogoh ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak berisi beberapa donat bersalut cokelat yang terlihat lezat, lalu menyodorkannya kepadaku.

“Kamu laper, kan? Kenapa belum makan?” tanyanya lembut. Suaranya semanis cokelat.

Oh my…

“Eh.. ngg… itu… anu… buru-buru… ngg…” jawabku gelagapan.

Oh my…

“Ini,” Katanya, masih menyodorkan kotak donat tersebut.

Aku hanya bolak-balik menatap kotak dan wajahnya. Dia hanya tersenyum maklum dan menggamit tanganku, menjejalkan salah satu donat ke tanganku. Kulit putihnya terlihat kontras dengan kulit cokelatku. Aku yang terkaget-kaget karena sentuhannya hanya terdiam, merasakan wajahku semakin lama semakin memerah, membara.

“Dimakan dong,” ujarnya.

Aku yang salah tingkah akhirnya memakan donat tersebut dengan terburu-buru, sedetik kemudian aku tersedak. Aku terbatuk-batuk, setengah mati menggapai udara. Dia ikut panik, menyodorkan botol air mineral miliknya. Setelah beberapa detik yang menyiksa, akhirnya aku dapat menelan sepotong besar donat keparat itu.

Oh my…

“Uhuk-uhuk… Sorry…” kataku meminta maaf dengan sedikit terbatuk-batuk, mataku berair.

“Kamu gak kenapa-kenapa, kan?” tanyanya lembut, khawatir.

“Ngg… I-iya… Eh… Gue… Gue ke toilet dulu deh,” racauku tak jelas dan langsung pergi secepatnya dari hadapannya.

Oh my…

*

Setelah berada di toilet pertama yang aku temui, aku lalu membasuh mukaku dengan asal-asalan, berharap ini mampu mendinginkan pikiran dan perasaanku yang panas.

Duh, kenapa sih gue?!

Aku mengumpat keras dalam hati, mencaci diriku sendiri. Aku bodoh, dungu.

Dia itu COWOK, Za! COWOK! Dan lo juga COWOK! Lo gak bisa deg-deg-ser begini ke sesama jenis! Lo bukan BANCI! Lo itu COWOK tulen yang masih doyan sama CEWEK! Lo gak boleh kebat-kebit kayak gini ke dia!

Aku berkali-kali melakukan latihan pernafasan agar tenang. Tarik… Hembus… Tarik… Hembus…

Oke… Sekarang biar gue tekankan sekali lagi. Lo cowok yang kalem, Za. Lo gak mungkin nganggep dia tampan. Sesama cowok haram hukumnya memuji ketampanan masing-masing. Oke? Tadi itu lo cuma heran sama kulitnya yang putih, beda sama lo yang cokelat. Okay? Everything’s OK, Za. Everything’s under control.

Setelah bersusah payah meyakinkan diriku sendiri, aku merasa sedikit lebih tenang dan percaya diri. Aku membasuh wajahku sekali lagi, menghilangkan sedikit gugup. Sedikit demi sedikit jantungku yang tadi berpacu sangat cepat kini mulai melambat, tubuhku mulai rileks.

Aku berharap ketika aku kembali, Miska sudah ada disana. Cewek itu sudah gila karena telah meninggalkanku berdua saja dengan cowok macam dia. Lihat saja nanti, hidupnya akan pendek karena berani-beraninya mengerjaiku.

Tetapi ketika aku kembali, yang kulihat hanyalah cowok itu sedang memainkan ujung bajunya. Rasa gugup mulai menjalar di sekujur tubuh. Entah kenapa debar jantungku makin lama makin keras. Kegilaan macam apa lagi yang harus kuhadapi?  Namun aku berusaha tak peduli dan terus berjalan kearahnya.

“Sorry ya, lama,” ucapku sambil memasang senyum yang biasa kugunakan untuk menggoda cewek-cewek.

Oh my… Kenapa gue pengen membuat dia tergoda?

“Eh, iya. Nggak apa-apa kok,” responnya sedikit kaget karena kedatanganku yang tiba-tiba, lalu ia tersenyum dengan lebih lebar dan lebih… menggoda menurutku.

Aku.  Pasti.  Sudah.  Gila.

Walaupun jantungku berdentum-dentum kencang, wajahku panas, dan hatiku berdesir-desir, aku berusaha keras untuk tetap kalem.

“Gue Riza, temen SMP-nya Miska. Lo?” ujarku sambil mengulurkan tangan.

“Aku Danny, temen sekelas Miska,” jawabnya lalu menerima uluran tanganku. Sesaat aku terpana melihat kulit putihnya diatas kulit cokelatku.

“Udah lama kenal Miska?” tanyaku, berusaha berbasa-basi, mengorek sebanyak mungkin informasi tentangnya.

“Nggak juga sih. Aku baru sekelas sama Miska tahun ini,” jawabnya singkat.

“Oooh gitu.”

Hanya itu responku, tak tahu lagi harus mengatakan apa saking gugupnya. Oh my… kemana Riza yang selalu stay cool? Masa sama cowok kayak dia bikin hatiku kebat-kebit nggak kepalang begini?

“Kamu sendiri sekolah dimana?” tanyanya, membuatku berbunga-bunga, setidaknya ia berusaha agar percakapan kecil ini tak berakhir.

“Gue? Gue sekolah di—“

“Yuk ah, pesen tiket,” potong Miska yang tiba-tiba datang entah dari mana, menggamit lenganku dan menarikku ke arah lift.

Ini yang buat Miska cocok bergaul dengan kera-kera, dia kayak kera betina. Ngeselin.

*

Leherku sakit. Bukan karena tempat duduknya yang kurang nyaman, tapi karena aku berkali-kali mencuri pandang ke belakang, tepatnya ke arah Danny. Untung saja Danny, Miska dan yang lain terlalu fokus pada adegan kapal tenggelam.

Dia membuatku hampir gila. Bukan, bukan, aku memang sudah gila.

“Kenapa lo?” tanya Miska keheranan melihatku memijat-mijat leher.

“Nggak,” gumamku, “Eh, lo kenal si Danny darimana sih?”

“Kenapa emang? Lo suka?” ujarnya asal.

Aku tersentak mendengar pertanyaan asbunnya.

“Dongo!” ucapku keras sambil menjitaknya untuk menutupi rasa salah tingkahku, membuat orang-orang yang berjalan di depan kami menoleh.

“Auw… Sakit! Lo apa-apaan sih?” protesnya keras.

“Jangan teriak-teriak, bego!” desisku pelan sambil menjitaknya lagi.

“Aduh! Iya…iya… Memangnya kenapa lo tanya-tanya?” ucapnya kesal.

“Eh… Ngg… Itu… Gue… Gue heran ajah dia make ‘aku-kamu’, padahal dia kan cowok,” sergahku cepat, khawatir Miska menyadari gelagat tak beres yang ada pada diriku

“Lo pikir semua cowok kayak lo dan temen-temen lo?” katanya sambil menoyor keras kepalaku.

“Aduh! Iya, kan sebaik-baiknya cowok yang pernah gue temuin tetep ajah ada sisi brengseknya,” belaku.

“Terserah deh, mending lo tanya langsung ajah sama orangnya,” ujarnya, dan sebelum aku sempat berbicara, Miska sudah berseru, “Dan! Temen gue mau nanya hal-hal intim ke lo.”

Miska telah memberikan penekanan yang berlebihan di kata ‘intim’, membuat Danny dan teman-temannya yang lain melempar pandang heran ke arahku. Miska buru-buru menghindar dari jangkauan tinjuku dan menggamit lengan salah satu temannya yang berjalan di depan. Sementara Danny berjalan lambat, menungguku menjajari langkahnya.

“Ada apa, Za?” tanyanya polos.

“Eh… Ngg… Nggak kok, memang kelakuan Miska ajah yang kayak kera betina,” jawabku pelan sambil menunduk, tak berani memandang matanya. Ia hanya tertawa, merdu seperti lonceng angin, membuat hatiku makin berdesir.

Hening.

“Eh, Dan?” ucapku tak mampu menahan rasa penasaranku.

“Hmm?” gumamnya.

“Emang harus gitu ya? Harus pakai aku-kamu?” tanyaku malu-malu.

“Memang kenapa? Romantis ya?” candanya sambil tertawa, membuatku mengangkat kepalaku, memandangnya lalu menyesalinya.

Aku telah terjatuh dalam-dalam.

*

Sisa hari itu aku terserang demam. Karena sepulangnya dari sana, tiba-tiba turun hujan lebat dan aku lupa membawa jaketku. Lalu tanpa mengganti bajuku yang basah, kunyalakan laptopku dan dengan cekatan membuka seluruh video Miyabi Collection yang aku punya. Dengan putus asa memastikan orientasi seksualku.

Kini aku hanya berbaring menatap langit-langit, sibuk berpikir, masih terlalu kalut untuk istirahat.

Frustasi karena tak bisa memejamkan mata membuatku iseng menjelajah Twitter. Setelah membalas beberapa pesan dari cewek-cewek dengan se-gentle dan seramah mungkin, aku menemukan sebuah pesan dari Miska. Di dalam pesan yang ia kirim, tercantum nama akunku dan beberapa nama akun lain yang tidak aku kenal. Aku memutuskan untuk tak menghiraukannya sampai kulihat sebuah akun bernama Danny yang juga tercantum di dalamnya.

Tanpa berpikir lagi, seolah pikiranku telah diatur sedemikian rupa, aku mengklik akun Danny tersebut. Dan aku menyesalinya. Kini wajahnya yang tampan hampir memenuhi seluruh layar handphone-ku.

Oh my…

Selama beberapa saat aku hanya terdiam, memperhatikan sebuah foto yang membuat jantungku memompa darah gila-gilaan ke kepala. Membuatku kepalaku terasa ringan. Melumerkan seluruh tulangku. Dan tanpa sadar aku menyimpan foto tersebut.

Tuhan memang keji. Dia memberi Danny wajah yang kelewat sempurna. Menyakitkan.

Oh my…

Malam itu, Danny untuk pertama kalinya muncul di mimpiku. Dan esoknya, aku terbangun dengan perasaan bahagia dan celana dalam yang basah. Lengket.

*

Sudah tiga hari berlalu dan demamku pun sudah sembuh. Hari ini aku memulai aktivitasku seperti biasa, namun dengan hati yang sedikit gusar. Aku malu menghadapi dunia dengan keadaan seperti ini. Aku merasa terkucilkan.

Am I gay?

“Eh! Bengong!” seru Frans sambil merangkulku dan mencekikku dengan bercanda.

“Auw! Sakit!” rintihku, entah kenapa aku merasa segan berada di dekat kera-kera ini.

“Cemen ah,” ucapnya sambil melepaskan cekikannya. “Tunas nggak seru kalau nggak ada lo, Za. Nggak ada yang bisa diledek-ledekin. Nggak ada yang bisa dimintain contekan, soalnya Revan sama Tian kan pelit banget. Nah, kalo Leon kan sama begonya kayak gue. Sakit apaan sih lo? Kena santet bukan sama si Nindy?”

“Sembarangan lo, dongo!” tegur Tian sambil memukul kepala Frans yang diikuti oleh teman-temanku lainnya.

“Aduh… Tapi serius nih, Za. Lo sakit apaan? Sampe kita-kita nggak boleh ngejenguk lo?” tanya Frans sambil mengusap-usap kepalanya yang telah menjadi bulan-bulanan kera-kera lain. Itu benar. Aku telah melarang mereka menjengukku. Saat itu keadaanku sedang sangat terpukul setelah mengetahui orientasi seksualku. Membuatku kalut karenanya.

“Demam doang, kok,” jawabku pelan.

“Masa demam doang kita nggak boleh jenguk lo?” desak Leon.

“Ah gue tau! Lo pasti melihara perawan kan di rumah lo?” teriak Frans

Dan lagi-lagi kepala Frans dijadikan bulan-bulanan oleh kera-kera keji ini. Untuk sesaat aku berpikir untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Namun ketika aku melihat wajah-wajah gembira mereka, aku tak berani. Aku terlalu takut ditertawakan. Aku takut mereka merasa jijik kepadaku.

Sisa hari itu berjalan lambat. Hingga akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi setelah sekian lama. Aku dengan lesu membereskan barang-barangku, memasukkannya ke dalam tas, lalu beranjak pergi. Namun kera-kera ini menghalangiku.

“Eh mau kemana? Bukannya tadi kita udah sepakat buat nonton?” tanya Revan.

“Eh?” tanyaku bingung.

“Makanya jangan mikir jorok melulu! Kita kan mau nonton bioskop hari ini,” jelas Frans.

“Ooh… Sorry… Gue… Gue masih nggak enak badan nih. Kapan-kapan deh ya? Bye,” ucapku.

“Ooh… Oke deh… Hati-hati di jalan ya,” pesan Tian.

Aku hanya bergumam tak jelas. Dan ketika aku cukup jauh, masih bisa kudengar pembicaraan mereka.

“Kayaknya beneran sakit tuh anak,” ucap Tian.

“Gejala-gejalanya sih Sifilis,” seru Frans asal saja.

Dan yang kudengar selanjutnya adalah suara bag-bug pelan. Dasar kera.

*

Jalanan sore ini kulihat cukup lengang. Matahari bersinar terik. Aku memutuskan untuk mengendarai motorku dengan santai, memberiku kesempatan untuk mengurai kalut. Tiba-tiba dari sudut mataku, aku melihat sosoknya. Sosok manusia yang akhir-akhir ini meracuni pikiranku. Danny sedang berdiri dengan dada naik turun di sebuah halte, bajunya terlihat basah dan wajahnya bercucuran peluh.

“Hei!” sapaku sambil meminggirkan motorku. Aku tak tahu apa yang aku lakukan.

Yang disapa hanya diam, memicingkan matanya untuk melihat dengan lebih jelas.

“Masih inget?” ucapku kalem walaupun dalam hati jingkrak-jingkrak kesenangan. Tak disangka-sangka bertemu pelaku yang membawa kabut di pikiranku.

“Ngg… Riza, ya?” tanyanya tak yakin.

“Ting-Tong.” gurauku mencoba melucu. “Lo mau kemana memangnya? Sampe mandi keringet gitu.” tanyaku sambil memerhatikan penampilannya yang—aku pasti sudah gila karenanya—seksi.

“Ngg… Itu… Barusan aku diturunin sama angkot di sana, terus aku jalan deh sampai sini, makanya jadi keringetan. Sebenernya aku mau ke toko buku di daerah sana, tapi dari tadi nggak ada angkot yang kelihatan,” jawabnya, masih sempat-sempatnya tersenyum walaupun ceritanya cukup mengenaskan.

“Oh. Yaudah. Naik,” ucapku sambil menyodorkan helm.

“Hah?” tanyanya tak mengerti.

“Naik. Gue bakal anterin lo,” jelasku sambil memakaikan helm kepadanya.

“Ta-tapi—“

“Huahahahaha… So-sorry… Gue gak tahan…. Huahahaha… Tampang lo bikin ngakak,” ucapku sambil tertawa terbahak-bahak sampai perutku sakit. Tampang Danny benar-benar lucu memakai helm yang kebesaran, membuatnya terlihat seperti capung. Setelah bersusah payah menahan rasa geliku, aku menghampiri motorku dengan Danny dibelakangku.

“Pegangan ya,” ujarku padanya. Dan kulihat dari kaca spion, ia hanya mengangguk dan mempererat pegangannya pada besi di belakang jok motor.

Selama perjalanan dia sama sekali tidak membuka suara, membuatku heran. Lalu tiba-tiba sebuah motor melaju cepat memotong jalanku, membuatku menginjak rem secara mendadak. Kurasakan helm Danny membentur helmku. Untunglah kami berdua tidak apa-apa.

“WOI!!!” teriakku marah, lalu aku berbalik dan bertanya lembut kepada Danny, “Lo nggak apa-apa kan, Dan?”

“Eh i-iya.”

“Pegangan ya,” pintaku lembut. Dan kurasakan pelukannya di pinggangku, membuat pipiku memerah.

*

“Gimana? Udah ketemu buku yang lo cari?” tanyaku pada Danny yang masih mencari-cari di sepanjang rak buku.

Awalnya aku hanya ingin mengantarkan Danny sampai depan toko buku yang ia maksud, namun ia memintaku untuk menemaninya, entah berbasa-basi atau tidak. Aku yang ditawari kesempatan untuk lebih lama bersamanya bukan kepalang bahagianya.

“Ng-nggak. Belum,” jawabnya dengan gigi bergemeletuk kedinginan. Kulihat bibirnya yang biasanya pink kini terlihat lebih gelap, kulitnya pun lebih pucat. Aku menyadari sedari tadi ia hanya memakai kaus tipis yang basah oleh keringat tadi.

“Lo kedinginan,” seruku pelan seraya membuka sweater ungu yang kupakai, dan kusodorkan kepadanya.

“Ngg-nggak usah, Za,” tolaknya yang tidak kupedulikan, lalu aku menjejalkan sweaterku tersebut ke dalam tangannya.

“Pake. Cepetan.”

Ia hanya tersenyum lalu pergi ke toilet terdekat. Beberapa menit kemudian, aku yang sibuk menjelajah di bagian komik-komik, dikagetkan oleh suara dibelakangku. Dan yang kulihat selanjutnya adalah Danny yang memakai sweaterku, beratus-ratus kali lipat lebih manis.

“Eh… U-udah?” tanyaku gugup.

“Iya. Trims ya. Bukunya juga udah ketemu nih,” ucapnya sambil mengangkat sebuah buku yang lumayan tebal.

“Ooh… Oke deh… Jadi? Kita pulang?” tanyaku dengan sedikit sedih, mengetahui kalau aku akan berpisah dengannya.

“Makan dulu, yuk! Aku yang traktir,” ajaknya, membuatku sumringah.

*

Pertemuan demi pertemuan terjadi di antara Danny dan aku, baik yang direncanakan maupun yang tidak. Foto sosoknya yang kukoleksi semakin lama semakin banyak. Kita semakin dekat dan aku semakin terjerat. Hanya kalut yang kurasa ketika aku jauh darinya, menyesali perasaanku yang tidak lazim ini. Aku sakit.

Namun ketika aku bersamanya, semua gundah itu hilang. Risau di hati mampu digantikannya dengan bahagia. Aku tak pernah sebahagia ini.

Ini cinta yang lain. Cinta yang lebih indah.

Tetapi aku masih dalam dilema besar. Benarkah ini jalan hidupku? Benarkah ini yang terbaik untukku? Benarkah ini satu-satunya cara untuk meraih bahagiaku?

“Kamu kenapa?” tanyanya lembut.

Aku hanya memandangnya. Memerhatikan rupanya yang akhir-akhir ini memenuhi duniaku. Melihat dahinya yang mengernyit karena khawatir. Mata hitamnya yang juga mencerminkan keheranan yang ia rasakan saat ini. Hanya ketulusan yang terpancar darinya. Membuatku selalu merasa benar berada di sisinya.

“Eh… Kamu kenapa ngeliatin aku begitu?”

“Hah? Ngg… Nggak kok,” jawabku gelagapan. Lalu aku mengalihkan pandang ke arah lain.

“Eh, bagaimana kalau kamu ajah yang aku lukis?” pintanya tiba-tiba seraya sibuk merogoh-rogoh ke dalam tas sekolahnya, mengeluarkan sebatang pensil dan sebuah kertas polos. Aku hanya bergumam tak jelas, karena tanpa kuberi jawaban pun ia sudah sibuk mengguratkan pensilnya.

Saat itu sekolah sudah usai. Aku memutuskan untuk menjemputnya dan mengajaknya main. Dan disinilah kami sekarang, salah satu tempat favoritku. Tempat ini berada tak jauh dari pusat kota, tetapi rimbun pepohonan dan hijaunya rumput meredam segala bising dan meniupkan hanya kedamaian.

“Eh, jangan nunduk!” ujarnya jengkel seraya menengadahkan kepalaku.

Kulit tempat dia menyentuhku tadi terasa terbakar. Kusadari wajahku mulai memanas, memerah hingga ke akar rambut.

“Eh… Kamu kenapa jadi merah begitu?” candanya sambil tertawa kecil.

Aku yang kesal karena telah dipermainkan hanya mencubit pipinya keras-keras. Membuatnya mengaduh-aduh.

“Aduh-duh… Ampun, Za… Hahaha… Ampuuun,” serunya.

Kami terus tertawa sampai perut kami sakit. Bersamanya aku telah menemukan bahagia. Namun tiba-tiba tawanya terhenti, matanya terpaku pada satu arah. Aku mengikuti arah pandangnya dan yang kutemukan adalah sepasang muda-mudi sedang tertawa-tawa. Sang pria memeluk erat sang wanita dari belakang. Romantis.

Dan ketika pria itu mengecup pelan pipi wanita tersebut, Danny tiba-tiba berdiri.

“Yuk, Za,” ucapnya pelan. Hampa. Dan ketika aku melihat matanya, kutemukan pedih.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s