Found Home

Semua orang berpakaian serba hitam. Hitam yang melambangkan duka. Saat ini semua orang berkabung untuknya, termasuk aku. Dari dulu aku tak mengerti kenapa ‘duka’ selalu identik dengan ‘hitam’, namun aku mengerti sekarang. Pahit hitam telah mengontaminasi seluruh inderaku. Hatiku lumpuh. Kesadaranku sedikit demi sedikit tersedot oleh hitam di ujung mata. Aku kehilangan dunia. Duniaku telah mati.

Tak pernah kurasakan duka sehebat ini. Melilit seluruh otot dengan duri, membetot hati. Ngilu rasanya. Inikah rasanya ditinggalkan seseorang yang kau cintai lebih dari rasa cintamu terhadap dirimu sendiri? Kalau ya, aku takkan mau mencintai lagi. Tapi akankah aku mencintai ‘lagi’? Disaat seluruh cintaku telah kuberikan semata-mata hanya untuknya?

Dia telah mati. Theo telah mati.

Pemandangan ini membakar setiap sel otakku. Dia disana, di rumahku. Terbujur kaku dengan kulit sepucat adonan roti, berselimut kafan. Diam membisu namun tetap tampan. Membuatku iri. Samar-samar masih bisa kulihat bibirnya menyunggingkan senyum kecil favoritku, seperti berkata, “Aku bahagia”.  Mau tak mau aku ikut tersenyum.

Ya, berbahagialah.

*

“Aku malas pulang.” gumamku pada diriku sendiri. “Dirumah pasti sedang sibuk.”

Sudah beberapa jam berlalu sejak pemakaman Theo. Kini aku berada di taman komplek, duduk disalah satu bangku taman yang ada, menghindari mata-mata sok prihatin dan kata-kata penghiburan kosong. Mereka tak mengerti. Dan takkan pernah mengerti pedihnya kehilangan yang meninggalkan luka berdarah-darah dihati. Kuputuskan untuk bangkit dari kursi taman yang dingin dan mulai berjalan.

Aku terus berjalan tanpa tahu kemana arah tujuanku. Biarlah sang kaki bertindak, kepala ini sibuk meraba-raba seberapa besar kerusakan yang ditinggalkan kakak tiriku itu. Bertanya-tanya masih adakah yang bisa diselamatkan?

Saking asyiknya aku berenang dalam kepedihan, aku tak menyadari pohon cemara yang menjulang dihadapanku, untung saja kakiku berhenti disaat yang tepat, hingga masih ada sedikit jarak antara hidungku dengan pohon tua tersebut. Kutengadahkan kepalaku agar bisa melihat puncak pohon ini, namun sia-sia. Puncak pohon cemara ini menjulang tinggi hingga tak terlihat, tertelan awan putih.

Kakiku yang letih kini mulai mendera, mendesakku untuk segera istirahat, apalagi didukung dengan udara sesegar ini. Akhirnya kuhempaskan bokongku diatas rumput tepat didepan pohon cemara tersebut. Rok hitamku agak terasa lembab, mungkin karena embun.

Beberapa menit setelah aku duduk, terdengar suara dari atas, keresak daun yang saling bergesekan dan samar samar kepakan sayap. Lalu bunyi debum pelan di sisi kiri dan kananku. Aku tak perlu repot-repot menoleh, tenagaku telah terkuras. ‘Duka’-ku mulai menghantam, dan meledaklah tangisku.

*

3 tahun kemudian

“Perkenalkan, aku Angga. 18 tahun.”

Mataku hampir lepas dari rongganya. YA TUHAN. Ganteng banget!!!

“Iya, ya. Lumayan.” ucap Mell.

“Hah?” ujarku heran. Kenapa sih teman sebangkuku ini?

“Iya, si Angga ganteng banget. Kan lo tadi bilang gitu?” balasnya tak kalah heran.

Oh my… jangan-jangan barusan aku menyuarakan apa yang kupikirkan. Nerd banget aku ini. Akhirnya aku hanya bisa cengar-cengir gak jelas sebagai responnya.

“Terima kasih Angga atas perkenalan singkatnya. Semoga kamu bisa akur dengan teman-teman disini ya. Kalau kamu, Nak, coba perkenalkan diri kamu didepan teman-teman, singkat saja.” ujar Bu Rosa kepada murid baru yang lainnya, yang aku cuekin saking terpesonanya dengan Angga.

“Aku Chris. Salam kenal.” ucapnya dingin.

“Sudah? Hanya segitu?” tanya Bu Rosa yang hanya dijawab dengan anggukan kecil dari Chris. “Oke kalau begitu. Tak apa-apa. Semoga kamu juga bisa bersosialisasi dengan teman teman barumu ya. Dan untuk kalian berdua, silahkan pilih, kalian mau duduk dimana?”

“Di sana.”

“Di sana.”

Mereka berdua berkata berbarengan sambil menunjuk meja dibelakangku, membuat seisi kelas tertawa.

“Sudah, sudah Class. Oke kalau begitu, silahkan taruh tas kalian disana, dan ambil semua peralatan tulis kalian, sekarang kita akan belajar outdoor.” seru Bu Rosa heboh. Semua murid juga ikut-ikutan heboh, outdoor dengan Bu Rosa pasti menyenangkan.

Ketika mereka, Angga dan Chris, berjalan ke meja dibelakangku, kami sempat bertemu pandang. Bola mata ungu dan biru tersebut menyimpan berjuta luka. Pedih yang pernah kurasa, merebak dihati. Melilit, hasilkan sakit.

*

Tak dapat disangkal, outdoor kali ini benar-benar menyenangkan. Sesaat aku dapat melupakan pedih yang kurasa karena dua anak baru itu. Apalagi ketika Bu Rosa menyudahi jam pelajaran 15 menit lebih awal, yang kami gunakan sebaik-baiknya untuk lebih mengenal kedua teman baru kita.

Angga dan Chris jauh berbeda. Angga periang, supel, lucu dengan kata lain menyenangkan, berbeda dengan Chris yang pendiam. Sekarang saja Angga sudah dikelilingi oleh banyak teman-teman sekelas yang bertanya macam-macam. Sedangkan Chris hanya duduk-duduk di atas rumput, menerawang jauh ke atas awan. Kenapa dia harus sesedih itu?

Lalu ia menoleh ke arahku, dan kemudian kami saling bertatap pandang untuk waktu yang lama. Mata ungu bertemu dengan mata hitam. Lalu ia tersenyum dan… DEG!

Jantungku melompat dan memompa darah dengan gila-gilaan ke kepala, membuat mukaku merah hingga ke akar rambut. Aku yakin kalau aku terlihat bodoh, maka kualihkan pandangan ke arah daun yang jatuh didekat kakiku. Menganggapnya sama menariknya dengan senyuman Chris. Oh my…

Lama aku hanya terbayang-bayang senyuman Chris, membuatku cengar-cengir sendiri, hingga akhirnya bel berbunyi, pertanda pelajaran telah berakhir. Anak-anak yang lain mulai bergegas meninggalkan taman sekolah, pun aku. Ketika aku mulai berjalan ke arah kelas, terlihat dari sudut mataku Chris berjalan ke arah yang berlawanan dengan kami-kami yang bergegas untuk ke kelas. Aku sih cuek saja. Termakan gengsi karena menyukai senyumannya.

*

Bel pulang berbunyi nyaring. Keriuhan yang selalu terjadi ketika anak-anak bergegas pulang terdengar dari lorong. Derap langkah kaki, pekik nyaring yang keluar dari mulut cewek-cewek labil, lagu-lagu yang dinyanyikan secara absurd oleh anak-anak cowok dan banyak lagi. Keruwetan yang menenangkan menurutku. Aku pun bergegas pulang, membereskan segala macam barang yang terhampar di mejaku.

“Aw!” pekikku tertahan.

Ada sesuatu yang tajam menyayat punggung tanganku di kolong meja. Seperti duri kecil. Benar saja, ketika aku dengan lebih berhati-hati meraba-raba kolong meja, teraih olehku dua tangkai mawar. Mawar putih dan ungu. Bukan main indahnya. Sekejap aku melupakan rasa pedih di punggung tanganku. Terpesona.

“Ayo ikut aku.” seseorang berkata padaku dengan lembut, lalu menggamit sebelah tanganku yang terluka. Ketika aku menoleh ke arahnya, baru kusadari kalau yang menuntunku menuju klinik sekolah adalah Angga. Rambut ikalnya yang pirang menjuntai lemas sampai tengkuknya, sesekali dimainkan angin yang juga membawa harum bunga-bungaan. Memberikan kesejukkan dihati.

Sesampainya di klinik sekolah, kudapati ruangan itu kosong, biasanya selalu ada suster yang berjaga disini. Aku didudukkan di salah satu kursi empuk yang ada disana. Lalu Angga sibuk mencari-cari kapas, antiseptik, dan hansaplas. Dengan perlahan dan lembut mulai membersihkan lukaku dengan kapas, lalu diberinya antiseptik dan terakhir menutupinya dengan sejenis hansaplas.

CUP.

Kecupan lembutnya yang tiba-tiba membuatku terkejut lalu tanpa kusadari kusentakkan tanganku dari genggamannya. Mungkin kelakuanku ini tidak sopan, namun dia hanya tersenyum dan berkata, “Itu salah satu cara pengobatan yang diajari oleh orang yang kusayang, itu akan membuatmu lebih cepat pulih.”

Ia dengan entengnya berkata seperti itu, membuatku malu. Kurasakan rasa panas menyebar di wajahku dan menerka-nerka seberapa merah wajahku sekarang. Akhirnya yang kulakukan hanya mendengus dan mengalihkan pandang sebagai respon atas kata-katanya.

Aku mengalihkan pandangan ke arah pintu klinik dan terlihat olehku pemandangan yang mebuatku tertawa terpingkal-pingkal hingga merosot dari kursi.

“HUAHAHAHAHAHAHA…” tawaku histeris.

Bahkan Angga juga ikut tertawa kecil melihat Chris yang dengan gagah berdiri menjulang di dekat pintu sedang memegang tas tangan berwarna pink-ku dan goodie bag imut bergambar Monokurobo yang juga pink.

Mungkin aku telah terbahak-bahak selama… entahlah, yang jelas ketika aku dengan susah payah mengontrol diri untuk tidak tertawa—dan hampir tidak berhasil—kurasakan rasa sakit yang menyenangkan di perutku akibat tertawa barusan. Mataku berair dan aku terengah-engah.

Ketika akhirnya aku bisa berdiri, aku membalikkan badanku dan berterima kasih kepada Angga, lalu kepada Chris.

“Trims ya, Ngga. Sebenernya kalau dihisap aja juga sembuh kok. Dan Chris, trims juga ya buat bawain barang-barang aku. Sampai bikin kamu mirip banget pegawai salon langganan aku. Hehe.”

Angga hanya tersenyum dan mengangguk, sedangkan Chris tidak memberi respon apa-apa, hanya menatap tajam kea rah tanganku. Apakah dia marah?

“Nggh, kalau gitu, aku pulang duluan. See ya tomorrow.” pamitku.

Dan aku berjalan kearah Chris sembari mengulurkan tanganku yang sehat, meminta barang-barangku. Namun ia hanya berbalik dan ngeloyor pergi. Aku bersusah payah mengejarnya, menyamai langkahnya yang besar-besar.

“Chris… Hei.. CHRIS!” seruku padanya, “Mau ngapain sih kamu?!”

“Pulang. Bareng kamu.” jawabnya santai.

“Tapi aku gak bawa kendaraan! Hei… Chris, berhenti!” seruku.

Akhirnya ia berhenti, persis di tengah lapangan basket. “Aku bawa.”

“Hah? Ap-apa?” ujarku tak percaya.

“Aku bawa. Kamu pulang bareng aku.” jelasnya, “Yuk.” ucapnya sambil menggamit lembut tanganku yang sehat. “Lalu, kalau kau tak suka bunga mawar dariku, buang saja. Kalau kau memperlakukannya seperti itu kau hanya akan diomeli penjaga sekolah.”

Awalnya aku tak mengerti apa yang dia bicarakan, lalu mataku beralih kepada apa yang sedang dipandangnya. Aku terkesiap.

“Oh my…”, kelopak mawar ungu dalam genggaman tanganku yang terluka telah berguguran. Kelihatannya kelopak-kelopak tersebut lepas karena terguncang ketika aku berlari. “Sebentar, Chris.” ujarku sambil menarik lembut tanganku dari genggamannya dan mulai berlari menyusuri jalanku tadi, mengumpulkan kelopak-kelopaknya.

Sepuluh menit kemudian, dengan terengah-engah, aku telah berada di hadapan Chris.

“Kamu habis ngapain sih?” tanya Chris.

Aku tak menjawab, sebagai gantinya kuulurkan tisu yang telah kujadikan wadah untuk kelopak-kelopak mawar ungu yang telah berguguran tersebut. “Aku takkan membuangnya, kau tahu? Tidak akan kalau mawar seindah ini.” ucapku.

“Indah saja takkan pernah  menjamin apa-apa. Bisa saja busuk. Beracun.” ucapnya dingin.

Belum pernah aku melihatnya sesedih itu. Berkaca-kaca aku dibuatnya. Mata ungu bertemu dengan mata hitam. Makin dilihat makin indah, namun tak kutemui racun didalamnya. Angin sepoi bertiup dari belakang tubuhnya, membawa aroma hangat. Sehangat matahari, mengingatkanku perasaan ketika kau berdiri dibukit tertinggi dikelilingi cemara dengan Matahari bersinar di sela-sela dedaunan.

“Yuk.” ujarnya selembut desau angin, sekali lagi menggamit tanganku, menuntunku ke arah parkir siswa.

Dan didalam kesedihanku, aku menemukan rumah.

*

“Theo, mungkinkah aku bisa mencintai lagi?” ujarku kepada selembar foto yang sudah lecek. Foto Theo yang paling tampan yang aku punya. Ia sedang memakai sweater dengan rambut acak-acakan karena tertiup angin yang berhembus cukup kencang. Menyunggingkan senyum terlebarnya. Dilatarbelakangi ferrish wheel yang ada dikotaku.

“Theo, mungkinkah aku bisa mencintai lagi?” ujarku sekali lagi. Disaat-saat labil seperti ini aku memang lebih memilih bercerita kepada Theo, berandai-andai dia akan mendengarkan atau memberiku solusi atau jika lagi tidak mood mendengarkan rengekkanku dia akan melemparkan bantal kearahku dan mengacak-acak rambutku sambil berseru “Dasar bodoooh!”, yang langsung membuatku lupa mengenai masalahku dan membalas kelakuaannya, biasanya akan berakhir dengan dia yang meminta ampun karena kegelian, aku penggelitik yang hebat.

““Theo, mungkinkah aku bisa mencintai lagi?” ujarku lebih pelan, dan aku mulai bisa membayangkan dia sedang duduk dihadapanku, memeluk gulingku yang menjadi favoritnya.

“Mungkin aja, hehehe, siapa memang orangnya?”

“Aku hanya bertanya. Serius? Bukannya aku telah memberikan semuanya ketika kau pergi? Masihkah ada sedikit yang tersisa?”

“Memang. Tapi cinta itu tumbuh, Sayang. Aku memang telah menuai seluruh cintamu, tapi yang kutuai hanyalah kuncup. Kuncup-kuncup indah pastinya, dan aku tak bilang aku menyesal. Kuncup-kuncup itu kini aku taruh di kamarku di surga.”

“Jadi sekarang, apa yang harus kulakukan, Theo? Kau tahu aku tak mau mengkhianatimu.” aku mulai menangis.

“Dasar bodoooh!” serunya, lalu kurasakan hangat yang menyenangkan ketika ia memelukku.

“Kau bebas mencintai siapapun, bodoh. Tapi yang jelas kau akan selalu mencintaiku diatas segalanya. Hahahaha.” ia tertawa keras sekali hingga tubuhku juga ikut terguncang disetiap tawanya.

*

Kemana kedua orang itu? Biasanya mereka tak pernah telat. Sakitkah mereka?

Jam dinding di kelas menunjukkan 40 menit telah berlalu usai bel tanda masuk berbunyi, tapi Angga dan Chris masih belum menampakkan batang hidung mereka masing-masing. Lima bulan telah berlalu sejak kepindahan mereka ke sekolah ini, nyaris tanpa telat ataupun absen, namun baru kali ini mereka telat.

Merasakan gelagat tak mengenakkan ini aku menjadi cemas. Tak henti-hentinya aku membalikan badan ke belakang, berharap entah bagaimana mereka telah duduk disana, berharap mendengar tawa Angga yang membahana dan melihat senyum kecil Chris, namun kecewa yang kudapat.

Hari ini berjalan lambat, teori relativitas brengsek. Yang kuinginkan sekarang adalah mengecek keadaan kedua orang itu, memastikan mereka selamat dan bahagia. Tapi sekali lagi aku dikecewakan. Aku bahkan tak tahu dimana mereka tinggal. Lima bulan bersama mereka dan ternyata aku tak tahu apa-apa. Menyedihkan. Pikiran ini makin membuatku depresi. Aku hanya bisa menunggu esok.

Esoknya, sepuluh menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, Chris datang dengan memar ungu di pelipis kiri dan ujung bibir yang berdarah.

“Yuk.” ucapnya masih sama lembutnya dengan yang terakhir kali kuingat. Menggamit jemariku dan menuntunku ke arah parkiran.

“Ta-tapi Chris… Kemana? Sebentar lagi bel masuk bunyi?” aku sedikit menyentak jemariku, agar ia berhenti dan memberiku penjelasan, dan berhasil. Ia berhenti lalu berbalik kearahku, perlahan melepaskan jemarinya yang baru kusadari saling bertautan dengan jemariku. Hangat yang kurasa hilang, dan aku sedikit menyesal menghentikannya.

Tiba-tiba ia menunduk, menangkup pipiku dalam tangannya dengan lembut, layaknya seseorang yang ingin mencium pasangannya, dan berbisik.

“Aku lagi butuh kamu banget. Kamu mau kan ikut denganku? Please?” bisiknya. Aku dimabukkan oleh aroma nafasnya. Semanis coklat.

“O-oke…” cicitku, terpesona.

Dan ia menautkan kembali jemarinya dan jemariku, masih dengan sama lembutnya. Coklat dan putih saling bertemu. Hangat yang kurindu mulai terasa. Sekali lagi kumenemukan rumah.

*

“Indah.” akhirnya aku bisa bersuara setelah lama hening. Masing-masing dari kami terdiam karena pemandangan yang terhampar didepan kami. Indah.

“Hmmm.” gumamnya menyetujui.

Kami berada di bukit tertinggi, dengan hamparan pemandangan yang memukau. Sedangkan dibelakang kami tumbuh pohon cemara paling tinggi yang pernah kulihat. Puncaknya ditelan awan-awan putih. Aku merasakan sebuah déjà-vu penuh kesedihan.

Aku menoleh kesamping, dan pemandangan yang lebih indah namun membuat luka terhampar. Chris menangis. Memang bukan sedu sedan, hanya air mata yang meleleh tiada henti.

Tanpa berfikir lagi, aku berdiri, berjalan dengan pelan kearahnya, menangkup wajahnya di tangan-tanganku yang mungil seperti yang ia lakukan tadi dan rasanya membara namun basah. Memaksanya, meminta fokusnya hanya untukku. Pedihnya mengalir, dari jemariku terus menggerogoti setiap inci kulitku hingga akhirnya terasa dihati. Tangisku meledak, tak mampu menahan pedihnya.

Pandanganku kabur, tak terfokus karena air mata ini. Namun sesaat aku bisa melihat mata ungunya yang berkabut luka.

“Kenapa?” tanyaku, tak lebih keras daripada bisikan.

“Terlalu banyak yang terjadi. Aku… Aku menyesal bertemu denganmu.” jawabnya, membuatku terkesiap dan menjatuhkan kedua tanganku dari pipinya. Rasa sakit yang lebih besar lagi menghantam laksana godam. Sakit hati aku dibuatnya.

Sesaat aku lumpuh, namun otakku menyuruhku berbalik dan lari. Lari, menyelamatkan mukaku, harga diriku, pergi dari sini.

Belum sempat ku berlari, Chris memelukku dari belakang dengan tangannya yang kokoh dan sayap hitam yang muncul dari punggungnya. Hangat aku dibuatnya. Bahkan dalam sakit hati yang luar biasa ini aku menemukan rumah.

“Akulah yang membunuh Theo. Merenggut nafasnya.” isaknya tertahan.

Kata-katanya butuh waktu yang lama untuk menembus pikiranku yang kini berkabut, dimabukkan oleh aroma tubuhnya.

“Ap-apa yang kau bicarakan Chris? Theo? Apa hubungannya dia dengan… dengan semua ini? Dan s-siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mempunyai sa-sayap?” tanyaku kebingungan.

“Aku… Aku Iblis.”.

Hening. Hening yang lama sekali.

“Hahaha. Chris, cukup! Aku tak begitu suka permainanmu kali ini. Jadi hentikan. Dan jangan pernah kau membawa-bawa nama Theo dalam setiap candaanmu!” ucapku sinis.

Lalu dengan tiba-tiba ia menarikku kedalam dekapannya dan menggendongku. Dalam sekejap aku telah berada di udara. Membisu. Tak dapat berkata-kata.

“Aku mimpi ya?” tanyaku sambil terengah-engah ketika Chris kembali berpijak di bumi dan dengan lembut menurunkanku dari gendongannya.

“Kenapa kamu masih gak percaya sih!” serunya histeris. Baru kali ini aku melihatnya sefrustasi ini, hingga merenggut sejumput rambutnya.

“Chris! Cukup! Hentikan!” teriakku sambil menarik-narik tangannya. “Hentikan, Chris! CUKUP!”

Ia hanya memandangku dengan mata merah dan sembab.

“Aku butuh kamu! Aku butuh kamu untuk dengerin! Aku butuh kamu buat mengerti! AKU BUTUH KAMU!!!” ia meraung hingga jatuh terduduk.

“Aku akan dengerin, Chris. Aku janji.” ujarku sambil berlutut dihadapannya. Lama kami hanya saling berpandangan. Hingga akhirnya Chris mampu membuka mulutnya, walaupun hanya gumam kecil yang keluar.

“Aku yang membunuh kakakmu.” ujarnya lirih, nyaris tak terdengar.

Aku berusaha tetap tenang mendengar kabar ini. Walaupun hati ini melilit. Sakit.

“Aku yang membunuh Theo.” ujarnya lebih keras. Bola matanya terus menelusuri wajahku, mencari-cari secercah emosi. Mencari pertanda jikalau aku akan mengamuk, dan mulai menyerangnya. Tapi nihil yang ia dapat.

“Aku yang membunuh Theo. Akulah sang Iblis. Sudah tugasku merenggut mereka yang sudah habis waktunya di dunia ini. Jiwanya sudah kurenggut darimu. Jadi marahlah! Kau harus membenci aku! Sekalian saja bunuh aku!” ucapnya gusar. Entah darimana datangnya, aku telah menggenggam belati hitam. Berukir rumit, sehitam kedua sayapnya yang terkulai lemas dibelakang punggungnya.

Perlahan ia mengangkat tanganku yang masih memegangi belati, mengarahkan tepat didadanya, dimana seharusnya ada sebuah jantung dibaliknya.

“Kenapa kau ada disini? Dihadapanku?” hanya itu respon yang bisa kuberikan.

Mata Chris melebar. Dengan tangan yang gemetar ia masih mengarahkan belati dalam genggamanku kejantungnya. Berharap aku tanpa ragu-ragu menghujam jantungnya.

“Aku diusir.” jawabnya pelan sambil menundukkan kepalanya.

Hening lama. Hingga akhirnya ia menatap kembali kedua mataku, yang jelas-jelas meminta penjelasan.

“Aku diusir, karena kamu.”

Sekarang giliran mataku yang dibuatnya melebar. Heran.

“Karena kamu begitu rapuh. Begitu berkubang dalam kesedihanmu. Membuatku meragukan apakah ini adalah keputusan yang benar atau tidak.” bisiknya pelan, membelai pipiku dengan tangannya yang bebas, “Membuatmu merana, membuatku sama merananya.

“Kami tak dibolehkan bersikap seperti ini. Kami dilarang meragu. Kami dilarang mencintai.” bisiknya.

“Lalu siapa yang mengusirmu? Kau seharusnya boleh melakukan apa saja yang kau mau.” ujarku pelan.

“Raja Iblis.” sahutnya menjawab pertanyaanku, “Aku telah diusir olehnya. Semua yang kupunya telah direnggutnya. Rumah, pekerjaan segalanya. Aku dibuang ke dunia manusia ini, dari abadi menjadi fana. Hanya kamulah alasanku dapat bertahan. Memulai segalanya dari awal lagi. Namun bagaimana aku bisa mengharapkanmu? Ketika kau tahu akulah yang menggali telaga perih untukmu, memaksamu berkubang disana. Tiada lagi yang berarti ketika kau membenciku.” ucapnya merana, kemudian menunduk menatap bumi dibawahnya.

Kutarik tanganku yang masih memegangi belati hitam itu dari genggamannya. Melepaskan belati tersebut, mengawasinya menggelinding ke arah kaki bukit. Menghela nafas panjang panjang, kemudian menatapnya. Entah kenapa air mataku mulai mengalir. Bodoh.

“Bagaimana kalau aku memaksamu untuk berenang bersamaku di telaga yang kau gali tersebut. Mengubahnya menjadi bahagia?” sahutku dengan menyunggingkan senyum dalam tangis. Konyol.

Lama kemudian ia baru mengangkat pandangannya, rasa heran menyapu wajahnya. Ketika ia melihat senyumku, baru ia mengerti.

Aku mencintainya, lebih besar daripada rasa cintaku pada Theo. Lebih besar daripada rasa cintanya.

*

Tangan hangatnya berada dalam genggamanku. Aku merasakan rumah setiap saat.

Aku pergi ketempat orang yang paling kucintai dengan orang yang paling kucintai. Aku menuntunnya menuju sebuah kubur. Kurasa Chris tahu itu kubur siapa. Kulepaskan tanganku, dan berlutut disebelah nisan, mengusap-usapnya dengan sayang untuk sesaat sebelum berkata-kata.

“Theo, aku kesini membawa cintaku… Kau tahu? Aku tak tahu apakah kuncup cintaku yang ada padamu sudah bermekaran atau belum, tapi yang kutahu, Chris telah punya padang bunga miliknya sendiri… Hehe… Ia lebih hebat dalam beberapa hal darimu tahu? Kupikir aku telah menemukan saingan untukmu Theo. Bagaimana menurutmu?” tanyaku.

Aku tak perlu lama menunggu untuk mendengar jawabannya. Sosok Theo telah ada dihadapanku, menjulurkan lidahnya dan berjalan sok ke arah Chris yang hanya diam mengamatiku, merangkulnya, seolah menyatakan “Aku bahagia. Aku bahagia melihatmu dengannya”.  Mau tak mau aku ikut tersenyum.

Ya, berbahagialah

***

 

Advertisements

One thought on “Found Home”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s